Tragedi Lahore, Tangis Haru Iringi Pemakaman 14 Anak Korban Atap Bimbel Roboh
- Sebanyak 14 anak sekolah tewas dan delapan lainnya luka-luka akibat runtuhnya atap tempat bimbingan belajar di pinggiran kota Lahore, Pakistan.
- Isis tangis menyelimuti lingkungan Kahna saat jenazah para korban yang berusia hingga 14 tahun tersebut dipulangkan dan dimakamkan oleh pihak keluarga.
- Pihak kepolisian setempat tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan kelalaian konstruksi dan kelayakan bangunan tua yang digunakan.
Isak tangis dan kedukaan mendalam menyelimuti kota Lahore di wilayah timur Pakistan, Rabu (1/7/2026), saat ratusan pelayat berkumpul untuk memakamkan 14 anak sekolah. Para korban yang masih berusia sangat muda tersebut meninggal dunia setelah atap tempat bimbingan belajar (bimbel) yang mereka tempati mendadak roboh pada hari Selasa sebelumnya. Selain korban jiwa, insiden tragis ini juga menyebabkan delapan anak lainnya mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit setempat dalam kondisi yang kini dilaporkan telah stabil.
Pihak kepolisian setempat saat ini bergerak cepat dengan meluncurkan penyelidikan intensif guna mengetahui penyebab pasti di balik insiden maut ini. Fokus utama penyelidikan adalah untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian fatal dalam proyek konstruksi yang sedang berjalan di gedung tersebut. "Kami masih terus melakukan penyelidikan mendalam untuk menentukan dengan tepat siapa yang harus bertanggung jawab atas kelalaian yang mengakibatkan insiden tragis ini," ungkap pejabat kepolisian setempat, Faisal, kepada awak media.
Berdasarkan laporan warga sekitar dan temuan awal dari tim penyidik kepolisian, pusat bimbingan belajar tersebut ternyata beroperasi di dalam sebuah struktur bangunan yang sudah berusia tua. Para penyelidik meyakini bahwa konstruksi atap di lantai dua yang belum selesai digarap roboh karena kualitas pengerjaan dan material yang sangat buruk. Kondisi ini diperparah dengan beban bangunan yang tidak memadai, sehingga langsung runtuh menimpa anak-anak yang tengah fokus belajar di bawahnya.
Suasana haru pecah ketika ambulans yang membawa jenazah para korban tiba di rumah duka di wilayah Kahna, sebuah lingkungan di pinggiran Lahore, sepanjang malam. Ibu-ibu dan kerabat perempuan para korban tampak duduk bersimpuh di samping jenazah sembari meratap, sementara teman-teman sekelas korban berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca. Salah satu orang tua korban, Mohammad Ashfaq, yang berprofesi sebagai buruh, tidak mampu menahan kesedihannya karena harus kehilangan anak laki-lakinya yang baru berusia 7 tahun sekaligus keponakannya dalam waktu bersamaan. "Saya tidak bisa mengungkapkan rasa sakit dan kesedihan ini dengan kata-kata," tutur Ashfaq di sela-sela tangisnya.
Aksi heroik sempat ditunjukkan oleh warga sekitar sesaat setelah struktur bangunan tersebut runtuh demi menyelamatkan para korban yang terjebak. Warga lokal bernama Mohammad Tahir menceritakan bagaimana tetangga langsung bahu-membahu menggunakan sekop bahkan tangan kosong untuk membongkar puing-puing sebelum tim penyelamat tiba di lokasi kejadian. Namun, takdir berkata lain karena banyak anak yang tidak dapat diselamatkan akibat tertimbun material berat. Kasus bangunan runtuh sendiri kerap terjadi di Pakistan karena lemahnya penegakan standar keamanan serta maraknya penggunaan bahan material murah demi menekan biaya proyek pembangunan.
Kini, kesedihan mendalam yang dirasakan oleh warga setempat perlahan mulai berubah menjadi gelombang kemarahan publik yang menuntut keadilan. Warga dengan tegas menyalahkan pemilik tempat bimbingan belajar yang dinilai ceroboh karena tetap memaksakan kegiatan belajar mengajar di bangunan tua berbahaya saat renovasi sedang berlangsung. Mereka menuntut pihak berwenang memberikan hukuman yang seberat-beratnya bagi siapa saja yang terbukti lalai hingga menghilangkan belasan nyawa anak-anak tidak berdosa tersebut.