Biaya Melonjak, Startup AS Mulai Berpaling ke Model AI China yang Lebih Murah
- Biaya operasional untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI) buatan korporasi Amerika Serikat kian membengkak dan membebani keuangan perusahaan rintisan.
- Sejumlah startup di Silicon Valley memutuskan migrasi total ke model AI asal China seperti DeepSeek dan Qwen karena harganya sepuluh kali lipat lebih murah.
- Meskipun model AI asal Amerika Serikat dinilai masih memimpin dari segi performa, efisiensi biaya membuat model AI China menjadi pilihan rasional untuk tugas repetitif.
Pengeluaran untuk teknologi kecerdasan buatan (AI) kini telah menjadi salah satu komponen biaya operasional terbesar bagi banyak perusahaan rintisan di Amerika Serikat. Demi menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tingginya tarif platform domestik, sejumlah startup di Silicon Valley kini mulai berpaling. Mereka memilih untuk bermigrasi ke model AI buatan China yang menawarkan harga jauh lebih terjangkau namun tetap andal.
Salah satu contoh nyata dialami oleh Lindy.ai, sebuah startup yang berbasis di San Francisco yang mengembangkan asisten AI untuk pengelolaan email dan kalender. Pendiri Lindy.ai, Flo Crivello, mengungkapkan bahwa pengeluaran terbesar perusahaannya awalnya berasal dari biaya langganan model AI premium milik Anthropic. "Sejauh ini, pengeluaran nomor satu kami adalah Anthropic. Jumlahnya bahkan lebih besar daripada total anggaran gaji karyawan," ujar Crivello saat menjelaskan beban finansial yang dihadapi perusahaannya.
Kondisi tersebut mendorong Lindy.ai mengambil langkah drastis dengan memindahkan seluruh lalu lintas sistem mereka ke model AI asal China, DeepSeek-V4. Crivello menegaskan bahwa keputusan tersebut murni atas pertimbangan efisiensi bisnis yang logis demi menghemat anggaran hingga jutaan dolar AS. "Model tersebut sepuluh kali lipat lebih murah, jadi ini merupakan keputusan bisnis yang sangat sederhana bagi kami," katanya menambahkan.
Fenomena pembengkakan biaya AI ini ternyata tidak hanya melanda level startup, melainkan juga perusahaan skala besar sekelas Uber. Chief Executive Officer Uber, Dara Khosrowshahi, sempat mengakui bahwa korporasinya telah menghabiskan seluruh anggaran tahunan AI hanya dalam kurun waktu satu kuartal saja. Selain DeepSeek, model AI buatan China lainnya seperti Qwen dari Alibaba juga kian populer dan mulai diintegrasikan oleh perusahaan global seperti Perplexity dan Nvidia karena dinilai cepat serta ekonomis.
Di sisi lain, para pakar teknologi menilai kemampuan model AI buatan Negeri Tirai Bambu saat ini masih tertinggal sekitar enam hingga dua belas bulan dari model AS seperti OpenAI atau Google. Kendati demikian, bagi banyak pelaku industri, selisih performa tersebut tidak menjadi masalah besar selama fungsi komputasi dasar terpenuhi. Perbandingan ini dianalogikan seperti memilih mobil fungsional harian yang efisien dibandingkan dengan mobil sport mewah yang berbiaya perawatan tinggi demi kebutuhan operasional massal.