Buku Dianggap Menghasut, Hong Kong Gerebek Toko Buku Independen dan Tangkap 5 Orang
- Otoritas keamanan Hong Kong melakukan penggerebekan di dua toko buku independen terkenal, Greenfield Book Store dan Have A Nice Stay.
- Lima orang ditangkap atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Keamanan Nasional 2024 terkait penjualan materi yang dinilai menghasut.
- Kasus ini menambah daftar panjang tekanan terhadap kebebasan berekspresi dan industri penerbitan independen di Hong Kong sejak protes 2019.
Aparat keamanan Hong Kong kembali melakukan tindakan tegas terhadap jaringan toko buku independen di wilayahnya. Otoritas setempat dilaporkan telah menggerebek dua toko buku independen terkemuka dan menahan lima orang atas dugaan menjual publikasi yang dianggap menghasut. Langkah ini memicu kekhawatiran baru terkait ruang kebebasan berekspresi di pusat finansial Asia tersebut yang kian menyusut.
Berdasarkan rekaman video dan foto yang beredar dari berbagai media lokal, sejumlah petugas kepolisian mengenakan rompi khusus terlihat menyita puluhan kotak berisi dokumen dari gedung yang menaungi Have A Nice Stay. Toko buku yang berlokasi di distrik Prince Edward tersebut didirikan oleh sekelompok mantan jurnalis. Tak berselang lama, pemandangan serupa juga terjadi di Greenfield Book Store yang berada di distrik Mong Kok, di mana petugas membawa keluar barang bukti dalam jumlah besar.
Kepolisian Hong Kong kemudian mengonfirmasi operasi senyap tersebut melalui sebuah pernyataan resmi. Pihak kepolisian menyatakan telah menahan dua pria dan tiga wanita yang diduga kuat melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional 2024. "Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kelima orang tersebut diduga memajang materi yang menghasut dan menjual publikasi serupa di dalam premis toko," tulis pernyataan resmi kepolisian setempat.
Menurut otoritas keamanan, konten dalam buku-buku yang disita dinilai mengandung muatan yang menghasut kebencian terhadap pemerintah kota, lembaga peradilan, serta aparat penegak hukum. Penyelidikan ini bermula dari laporan petugas bea cukai yang mendeteksi masuknya kiriman buku-buku mencurigakan dari luar negeri. Meski demikian, pihak kepolisian enggan membeberkan secara rinci judul buku maupun asal negara pengirim komoditas tersebut.
Tindakan represif ini merupakan gelombang penangkapan ketiga yang menyasar toko buku independen sepanjang tahun ini, setelah operasi serupa digelar pada Maret dan Juni lalu. Sebelum insiden ini terjadi, manajemen Have A Nice Stay bahkan telah mengumumkan rencana penutupan toko secara permanen pada 30 Agustus mendatang akibat kesulitan finansial dan batasan politik yang semakin tidak menentu. Situasi ini kontras dengan era sebelum undang-undang keamanan baru diterapkan, di mana banyak warga China daratan sengaja menyeberang ke Hong Kong demi membeli buku-buku bertema politik sensitif yang dilarang di negaranya.