AS Luncurkan Serangan Baru di Iran, Blokade Selat Hormuz Kembali Memanas
- Militer Amerika Serikat meluncurkan dua gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran untuk melemahkan ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz.
- Pasukan AS melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Curacao, M/T Belma, yang kedapatan mengabaikan peringatan dan mencoba menerobos blokade menuju Pulau Kharg.
- Ketegangan ini membuat kesepakatan gencatan senjata sementara (MoU) yang disepakati bulan lalu berada di ambang kehancuran total karena kedua pihak enggan bernegosiasi.
Militer Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan dua gelombang serangan udara beruntun ke wilayah Iran pada Rabu waktu setempat. Langkah ini menandai hari kelima berturut-turut serangan udara AS yang ditargetkan untuk melumpuhkan kemampuan militer Teheran di sepanjang jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Komando Sentral AS (CENTCOM) menegaskan bahwa serangan presisi tersebut diarahkan langsung pada sistem pertahanan pesisir serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran.
Selain melancarkan serangan udara, militer AS juga bertindak agresif dengan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong berbendera Curacao, M/T Belma, yang sedang berlayar menuju Pulau Kharg. Pulau tersebut dikenal sebagai jalur nadi utama ekspor minyak mentah bagi Teheran. Menurut keterangan resmi CENTCOM, kapal komersial tersebut mengabaikan beberapa kali peringatan lisan sebelum akhirnya jet tempur AS melepaskan rudal Hellfire tepat ke cerobong asap kapal hingga membuatnya berhenti beroperasi.
Kembali aktifnya blokade laut yang dimulai sejak Selasa sore ini memicu kepanikan baru di pasar energi global. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi perluasan operasi militer guna mengikis dominasi pertahanan Teheran di Selat Hormuz. "AS akan meminta pertanggungjawaban langsung dari Iran atas perintah langsung Panglima Tertinggi kami," tulis CENTCOM dalam pernyataan resminya di media sosial X, merujuk pada instruksi tegas dari Presiden Trump.
Di sisi lain, respons defensif juga disuarakan oleh para pejabat tinggi di Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa negaranya saat ini sama sekali tidak memiliki rencana untuk kembali ke meja perundingan dengan Washington. Baghaei menyatakan bahwa Iran tidak akan menaati kesepakatan apa pun jika pihak AS terus melanggar komitmen internasionalnya. Senada dengan hal itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki kebebasan penuh untuk merespons setiap bentuk agresi dari musuh.
Dampak kemanusiaan dari aksi saling serang ini dilaporkan mulai meluas di wilayah selatan Iran. Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan bahwa lebih dari 260 orang mengalami luka-luka akibat serangan udara AS beberapa hari terakhir, di mana puluhan warga sipil dilaporkan tewas. Selain itu, sebuah rumah sakit anak penderita kanker di kota Ahvaz terpaksa dievakuasi setelah sebuah proyektil jatuh di dekat fasilitas tersebut. Di tengah memanasnya situasi militer ini, harga bahan bakar di AS langsung meroket tajam ke angka USD 3,89 per galon akibat terganggunya rantai pasok di Selat Hormuz.