Bikin Geger Bali, WNA Australia Tewas Akhiri Hidup di Ruang Detensi Imigrasi Ngurah Rai
- Seorang warga negara asing (WNA) asal Australia berinisial CJMH (39) ditemukan tewas menjerat lehernya sendiri di dalam kamar mandi ruang detensi Imigrasi Ngurah Rai, Bali.
- Kepala Imigrasi Ngurah Rai menyatakan bahwa sebelum kejadian tragis tersebut, korban dalam kondisi psikologis yang sangat tenang, kooperatif, dan menyetujui opsi deportasi.
- Petugas menemukan korban sudah tidak bernyawa setelah curiga karena korban berada di dalam kamar mandi selama lebih dari 30 menit.
Publik Bali digegerkan oleh peristiwa tragis tewasnya seorang warga negara asing (WNA) asal Australia berinisial CJMH (39) di dalam ruang tahanan. Korban ditemukan tidak bernyawa setelah menjerat lehernya sendiri di dalam kamar mandi ruang detensi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai. Kejadian ini mengejutkan banyak pihak lantaran pria paruh baya tersebut sebelumnya dinilai sangat kooperatif dan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan selama menjalani pemeriksaan oleh petugas keimigrasian.
Pihak Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai menegaskan bahwa korban berada dalam kondisi psikologis yang sangat stabil sebelum insiden itu terjadi. CJMH diamankan oleh petugas lantaran terbukti melakukan penyalahgunaan izin tinggal serta telah melewati batas waktu tinggal atau overstay dalam jangka waktu yang cukup lama di Pulau Dewata. Selama proses interogasi, tidak ada indikasi depresi berat atau kecenderungan untuk mengakhiri hidup yang ditunjukkan oleh pria asal Negeri Kanguru tersebut.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, mengungkapkan bahwa pihaknya sempat melakukan komunikasi mendalam secara persuasif dengan CJMH mengenai pelanggaran administrasi keimigrasian yang dilakukannya. Dalam dialog tersebut, korban secara sadar memahami konsekuensi hukumnya dan menyetujui opsi deportasi kembali ke negaranya. "Secara psikologis memang sudah tenang. Sudah mau menerima jalan keluar yang kita tawarkan," ujar Bugie Kurniawan saat menggelar konferensi pers di Mapolresta Denpasar.
Lantaran tidak mendeteksi adanya gejolak emosional atau tanda-tanda kecemasan yang ekstrem, pihak Imigrasi kemudian menempatkan CJMH di ruang detensi sementara sembari mengurus dokumen administrasi pemulangan. Petugas meyakini penempatan tersebut aman karena korban dinilai sudah menerima keputusan hukum dengan lapang dada. "Setelah kita memastikan pada saat masuk ke ruang detensi, yang bersangkutan itu dalam kondisi psikologis yang tenang, terus kemudian tidak ada potensi untuk menghilangkan nyawanya, makanya kami masukkan ke dalam ruang detensi," kata Bugie.
Terkait rumor yang beredar mengenai motif depresi akibat konflik rumah tangga dengan mantan istrinya, pihak Imigrasi memilih untuk tidak berkomentar banyak dan fokus pada penegakan aturan keimigrasian saja. Mereka membatasi ruang penyelidikan pada aspek administratif yang menjadi wewenang penuh institusi tersebut. "Kalau terkait konflik dengan mantan istri, kami tidak memperdalam sampai sana," ucap Bugie dengan nada tegas di hadapan para jurnalis.
Kronologi petaka ini mulai terkuak pada Jumat sore, 10 Juli 2026, melalui rekaman kamera pengawas (CCTV) di area luar detensi. Korban terlihat berjalan santai dan masuk ke dalam kamar mandi ruang detensi pada pukul 16.52 WITA. Kecurigaan petugas mulai muncul setelah korban tidak kunjung keluar dari kamar mandi hingga waktu menunjukkan pukul 17.25 WITA. Petugas yang berjaga langsung mendobrak pintu toilet dan menemukan korban dalam keadaan sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Bugie juga mengklarifikasi perihal sistem pengawasan di area sensitif tersebut yang dituding longgar oleh beberapa pihak. Ia menjelaskan bahwa struktur fisik ruang detensi sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak memiliki celah atau struktur bangunan yang menonjol untuk disalahgunakan. Namun, demi menghormati privasi dasar para deteni, kamera pengawas memang sengaja tidak dipasang di dalam toilet ruang tahanan. "Kami sudah berusaha menghilangkan segala potensi yang bisa digunakan oleh seseorang, makanya tidak ada teralis yang bisa digunakan untuk menggantung," tuturnya menutup penjelasan.