Optimisme Lapangan Kerja Menurun, Ekonom UMY Soroti Gelombang PHK dan Sektor Formal
- Hasil survei konsumen Bank Indonesia pada Juni 2026 menunjukkan adanya penurunan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja.
- Ekonom UMY Profesor Imamudin Yuliadi menilai persepsi ini dipicu oleh perlambatan dunia usaha dan maraknya gelombang pemutusan hubungan kerja.
- Ketidakpastian geopolitik global, tekanan inflasi, serta pelemahan nilai tukar rupiah turut memperkeruh ekspektasi publik terhadap kondisi ekonomi.
Keyakinan masyarakat terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia dilaporkan mengalami tren penurunan yang cukup signifikan. Fenomena ini tercermin dengan jelas melalui hasil Survei Konsumen teranyar yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) untuk periode Juni 2026. Menurunnya ekspektasi publik ini mengindikasikan adanya kecemasan kolektif yang mendalam mengenai masa depan stabilitas finansial dan serapan tenaga kerja di dalam negeri.
Merespons data tersebut, Ekonom dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Profesor Imamudin Yuliadi, memberikan analisis mendalam terkait faktor utama yang mendasari pudarnya optimisme tersebut. Menurutnya, penurunan ini mencerminkan persepsi riil masyarakat yang langsung bersinggungan dengan lesunya aktivitas di sektor dunia usaha saat ini. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif terjadi di berbagai industri dalam beberapa waktu terakhir memperparah situasi psikologis para pencari kerja.
'Termasuk situasi ekonomi dan politik yang memengaruhi keyakinan masyarakat terhadap peluang memperoleh pekerjaan. Ini juga dipengaruhi penilaian masyarakat yang memaknai lapangan kerja sebagai pekerjaan formal,' ujar Imamudin saat memberikan keterangan media di Yogyakarta. Ketergantungan paradigma masyarakat terhadap status pekerja formal membuat angka persaingan semakin ketat, sementara kuota lowongan kerja yang tersedia dari perusahaan besar kini kian terbatas.
Lebih lanjut, Imamudin menguraikan bahwa laju pertumbuhan kesempatan kerja di sektor formal memang belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan jumlah lulusan baru dan pencari kerja yang terus meroket setiap tahunnya. Akibat adanya perlambatan di sejumlah sektor usaha strategis, muncul sentimen negatif yang kuat di tengah publik bahwa mencari mata pencaharian saat ini jauh lebih sulit dibandingkan periode sebelumnya. Angka-angka dalam survei tersebut dipandang sebagai potret nyata ketakutan masyarakat terhadap masa depan ekonomi mereka.
Faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik yang berkepanjangan, lonjakan harga energi, dan tekanan inflasi global juga dituding menjadi biang keladi makro. Ditambah lagi dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan dinamika politik nasional yang penuh ketidakpastian, ekspektasi pasar pun ikut terombang-ambing. 'Perekonomian Indonesia belum berjalan secara ideal. Kita menghadapi tekanan dari situasi global, termasuk situasi dalam negeri, sehingga memberikan sinyal kurang baik dan mempengaruhi psikologi masyarakat,' tutupnya.