Iqbal Tawarkan Bali Jadi Destinasi Wisata Hijau, Pasokan EBT dari NTB dan NTT
- Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menawarkan konsep kerja sama regional KRBNN untuk menjadikan Bali sebagai destinasi wisata hijau 100 persen menggunakan pasokan EBT dari NTB dan NTT.
- NTB dan NTT memiliki potensi energi terbarukan raksasa, termasuk rencana pemanfaatan 15 bendungan besar di NTB serta potensi total hingga 396 GW di NTT.
- Kedua kepala daerah mendesak pemerintah pusat untuk melakukan relaksasi regulasi wilayah usaha kelistrikan dan menawarkan kemudahan perizinan lewat program NTB Capital.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menawarkan konsep visioner untuk menjadikan Bali sebagai destinasi wisata hijau (green tourism) kelas dunia. Langkah strategis ini digagas melalui pasokan listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang bersumber dari NTB dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Gagasan besar tersebut dipaparkan langsung oleh Iqbal dalam forum internasional Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang berlangsung di Bali.
Menurut Iqbal, kolaborasi segitiga antara Bali, NTB, dan NTT yang tergabung dalam Kerja Kerja Sama Regional Bali-NTB-NTT (KRBNN) dapat menjadi cetak biru transisi energi nasional. Melalui skema ini, Bali tidak perlu lagi terbebani oleh pembangunan infrastruktur pembangkit listrik baru yang berpotensi merusak estetika lingkungan pulau dewata tersebut. Kawasan NTB dan NTT diklaim memiliki cadangan serta potensi energi surya yang melimpah untuk menopang kebutuhan tetangganya.
'Bayangkan Bali menjadi destinasi wisata yang benar-benar 100 persen hijau. Bali tidak perlu lagi membangun pembangkit listrik sendiri karena kebutuhan energinya bisa dipasok dari NTB dan NTT. Potensi energi surya di kedua provinsi ini sangat besar,' ujar Iqbal di hadapan para pemangku kepentingan energi bersih.
Secara teknis, NTB memiliki modal kuat dengan keberadaan 77 bendungan, di mana 15 bendungan berukuran besar dinilai sangat layak untuk dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terapung (floating solar photovoltaic). Pemerintah daerah mengalkulasikan bahwa pemanfaatan 20 persen luas genangan bendungan tersebut mampu menghasilkan daya listrik hingga 500 megawatt (MW). Jika dikombinasikan dengan potensi masif di NTT, kedua wilayah ini diproyeksikan mampu menyuplai pasokan interkoneksi super grid sebesar 5 hingga 7 gigawatt (GW) dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Untuk memuluskan langkah tersebut, Pemprov NTB juga memperkenalkan program NTB Capital sebagai instrumen jaminan kemudahan bagi para investor global yang tertarik menanamkan modalnya. Program ini dirancang khusus untuk mempercepat rantai birokrasi perizinan serta mitigasi konflik sosial di sekitar lokasi proyek pembangkit. 'NTB Capital akan menjadi assurance bagi investor. Kami membantu mempercepat proses perizinan sekaligus memfasilitasi penyelesaian berbagai isu sosial yang mungkin muncul di sekitar lokasi investasi,' kata Iqbal menambahkan.
Kendati demikian, Iqbal juga menyoroti pentingnya relaksasi regulasi dari pemerintah pusat, terutama pemberian wilayah usaha (Wilus) mandiri bagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti Mandalika untuk memproduksi listrik EBT hingga 100 MW. Senada dengan hal itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan kesiapan total daerahnya yang memiliki potensi EBT hingga 396 GW berkat tingginya radiasi matahari di wilayah tersebut. Melki menjamin kepastian tata ruang dan ekosistem investasi yang kondusif bagi siapa saja mitra yang ingin bekerja sama.