Ketika Gol Piala Dunia Menggerakkan Ekonomi Bali, Inovasi Event Spillover yang Luput
- Aktivitas nonton bareng Piala Dunia oleh wisatawan asing di kawasan wisata Bali seperti Canggu dan Seminyak sukses menggerakkan ekonomi lokal secara masif.
- Fenomena ini menciptakan limpahan ekonomi (spillover economy) organik yang sayangnya belum dilirik pemerintah daerah sebagai strategi resmi pembangunan pariwisata.
- Pemerintah daerah didorong mengubah paradigma dengan mengelola event spillover internasional guna memperkuat sektor UMKM hingga night-time economy di Pulau Dewata.
Pemerintah daerah di berbagai belahan dunia saat ini tengah berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah berbagai ajang internasional kelas dunia. Mulai dari konferensi tingkat tinggi, festival budaya, konser musik spektakuler, hingga kompetisi olahraga bergengsi, semuanya dipandang sebagai instrumen paling ampuh untuk menarik minat wisatawan sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal. Logika yang melatarbelakanginya sangat sederhana, yakni semakin besar sebuah peristiwa yang digelar, maka akan semakin besar pula perputaran uang yang dihasilkan di daerah tersebut.
Namun, ada sebuah ironi menarik yang jarang disadari oleh para pengambil kebijakan di Indonesia, khususnya di Pulau Dewata. Di Bali, aktivitas ekonomi justru tumbuh subur dan bergerak masif dari sebuah peristiwa olahraga besar yang sama sekali tidak diselenggarakan di Indonesia, yaitu turnamen Piala Dunia. Selama beberapa pekan terakhir, banyak sports bar, beach club, restoran, hingga kafe di kawasan wisata populer seperti Canggu, Seminyak, Uluwatu, hingga Sanur dipenuhi oleh ribuan wisatawan asing yang datang berbondong-bondong hanya untuk menyaksikan pertandingan bersama.
Para turis mancanegara ini tidak sekadar duduk manis menonton pertandingan sepak bola di layar kaca. Mereka secara aktif membeli makanan dan minuman, menggunakan jasa transportasi daring, memperpanjang waktu singgah di kawasan wisata, bahkan tidak sedikit dari mereka yang sengaja menyesuaikan agenda liburannya di Bali agar dapat tetap mengikuti jalannya pertandingan tim nasional negara asal mereka. Fenomena unik ini membuktikan bahwa bagi Bali, Piala Dunia bukan lagi sekadar peristiwa olahraga global biasa, melainkan sudah menjelma menjadi sebuah instrumen peristiwa ekonomi yang nyata.
Sangat disayangkan, aktivitas ekonomi yang tumbuh dari momentum olahraga dunia tersebut hingga kini masih berlangsung secara organik melalui inisiatif mandiri para pelaku usaha setempat. Pemerintah daerah dinilai belum melihat fenomena ini sebagai bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi maupun upaya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). 'Padahal, di sinilah sesungguhnya terdapat ruang inovasi kebijakan yang selama ini luput dari perhatian kita semua,' ungkap akademisi sekaligus Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik Universitas Udayana, I Gede Sumitra Jaya.
Menurut analisisnya, pembangunan pariwisata Bali selama ini masih terlalu didominasi oleh paradigma destination economy, yaitu fokus pada bagaimana menarik wisatawan untuk datang melalui promosi destinasi, pembangunan infrastruktur fisik, atau penyelenggaraan acara lokal di daerah sendiri. Pendekatan konvensional tersebut tentu saja tetap relevan untuk dipertahankan. Akan tetapi, dinamika perubahan perilaku wisatawan global saat ini menunjukkan bahwa daya saing suatu destinasi tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang secara fisik dimiliki oleh daerah tersebut, melainkan juga dari kemampuannya mengelola berbagai momentum besar yang terjadi di luar wilayahnya.
Di era digital yang serbacepat ini, perhatian masyarakat dunia bergerak sangat dinamis mengikuti berbagai peristiwa berskala global. Melalui pengelolaan yang tepat, pemerintah daerah sebenarnya dapat menyusun kalender Global Event Tourism yang memanfaatkan berbagai agenda internasional, mulai dari Piala Dunia, Olimpiade, Formula 1, hingga turnamen tenis Grand Slam, yang diintegrasikan dengan promosi UMKM lokal dan event kuliner malam. Hal ini dinilai jauh lebih murah karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran daerah hingga miliaran rupiah hanya untuk menjadi tuan rumah, melainkan cukup dengan membangun ekosistem yang mampu menangkap limpahan ekonomi yang sudah terbentuk secara alami.