Geger 92% Warga Cili Tolak Uang Tunai Dihapus, Minta Tetap Ada!
- Sebanyak 92 persen warga Cili menegaskan agar uang tunai tetap dipertahankan sebagai opsi pembayaran sah.
- Meski penggunaan uang fisik terus merosot akibat popularitas kartu debit dan dompet digital, masyarakat menganggap uang tunai penting saat darurat.
- Kelompok lansia dan warga di wilayah pelosok Cili menjadi pihak yang paling bergantung pada keberadaan uang fisik.
Penggunaan uang tunai dalam kehidupan sehari-hari di Cili memang terus mengalami penurunan drastis selama beberapa tahun terakhir seiring pesatnya adopsi teknologi finansial. Namun, temuan terbaru dari survei Pusat Penelitian Perusahaan dan Masyarakat (CIES) Universidad del Desarrollo bersama Asosiasi Denaria Cili menunjukkan fakta mengejutkan di mana mayoritas warga menolak jika uang fisik sampai dihilangkan.
Berdasarkan laporan Panel Ciudadano UDD-Denaria yang melibatkan 1.101 responden dan disandingkan dengan data Bank Sentral Cili, kartu debit mendominasi 67 persen transaksi harian, sedangkan penggunaan uang tunai turun hingga menyisakan 10 persen saja. Meskipun demikian, sebanyak 92 persen responden secara tegas menginginkan agar uang fisik tetap ada dan dipertahankan sebagai opsi pembayaran.
Presiden Eksekutif Denaria Cili, Fernando Yáñez, menilai bahwa dorongan kuat masyarakat untuk mempertahankan uang tunai dilandasi alasan praktis dan keamanan, terutama di negara rawan bencana alam. "Tidak ada keraguan bahwa teknologi baru mengambil alih peran uang tunai, tetapi warga Cili ingin mempertahankan hak menggunakannya karena menjadi penopang utama saat sistem digital terganggu atau terjadi bencana," ujar Yáñez.
Studi tersebut juga memetakan bahwa ketergantungan pada uang fisik sangat terasa di kalangan lansia di atas 61 tahun serta kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang memiliki akses internet terbatas. Di samping itu, wilayah di luar ibu kota Santiago mencatatkan penggunaan uang tunai yang jauh lebih tinggi akibat belum meratanya infrastruktur jaringan digital di daerah-daerah remote.
Yáñez turut mencontohkan negara maju seperti Swedia yang sempat sangat gencar menghapus uang tunai namun kini mulai berbalik arah akibat ancaman serangan siber dan risiko krisis darurat nasional. Belajar dari kasus tersebut, para peneliti mendesak Parlemen Cili untuk merumuskan undang-undang khusus yang menjamin hak transaksi uang tunai guna melindungi kelompok rentan dan memperkuat ketahanan ekonomi negara.