Efek Kemarau dan Makan Bergizi Gratis, Harga Jengkol di Garut Melonjak hingga Rp 80 Ribu
- Hampir tiga pekan memasuki musim kemarau, harga komoditas sayuran di pasar tradisional Kabupaten Garut mengalami lonjakan signifikan.
- Harga eceran jengkol sempat menembus angka Rp 80.000 per kilogram karena pasokan yang sempat langka di pasaran.
- Para pedagang mengeluhkan penurunan omzet akibat daya beli masyarakat yang merosot setelah harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.
Memasuki pekan ketiga musim kemarau yang memicu kekeringan, stabilitas harga kebutuhan pokok penting masyarakat di Kabupaten Garut mulai terganggu. Dampak cuaca ekstrem ini sangat terasa pada komoditas sayur-mayur yang mengalami lonjakan harga cukup drastis di sejumlah pasar tradisional. Dari sekian banyak jenis sayuran, komoditas jengkol menjadi salah satu yang mengalami kenaikan paling signifikan hingga dikeluhkan oleh para pedagang dan konsumen.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga jengkol di tingkat eceran sempat menyentuh angka Rp 80.000 per kilogram akibat pasokan yang minim. Siti (55), salah seorang pedagang sayuran di Pasar Ciparay, Kecamatan Karangpawitan, Garut, mengungkapkan bahwa komoditas yang memiliki aroma khas tersebut bahkan sempat menghilang dari pasaran selama beberapa pekan terakhir karena sulitnya pasokan dari petani.
'Jika pun ada barangnya, harganya cukup tinggi sampai menembus 80 ribu rupiah per kilogramnya, sementara yang beli juga tidak ada,' kata Siti saat ditemui di lapak dagangannya, Rabu 15 Juli 2026. Kendati saat ini harga jengkol sudah mulai berangsur turun ke angka Rp 60.000 per kilogram, minat pembeli dinilai masih sangat rendah mengingat harga normal jengkol biasanya hanya berkisar antara Rp 6.000 hingga Rp 8.000 saja per kilogramnya.
Selain jengkol, komoditas sayuran lain seperti tomat dan cabai juga ikut merangkak naik imbas dari minimnya pasokan di tengah tingginya permintaan. Harga tomat saat ini menembus Rp 16.000 per kilogram dari harga normal yang berada di kisaran Rp 6.000 sampai Rp 10.000 per kilogram. Sementara itu, komoditas cabai merah dan cabai rawit masih bertahan di harga yang cukup tinggi, yakni di atas Rp 40.000 per kilogram.
Pedagang sayur lainnya, Dede, mengonfirmasi bahwa selain faktor cuaca buruk yang berpotensi memicu gagal panen akibat krisis air, ada faktor lain yang mendorong kenaikan harga ini. Menurutnya, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut mendongkrak volume permintaan pasar secara masif. 'Sejak ada MBG semua kebutuhan pokok masyarakat terus mengalami kenaikan, dan susah turun harganya,' ujar Dede menambahkan.
Kondisi harga kebutuhan pokok yang serba naik ini diakui sangat memberatkan para pedagang kecil di pasar tradisional. Menurunnya daya beli masyarakat secara langsung berdampak buruk pada pendapatan harian dan omzet bulanan mereka yang merosot tajam. Para pedagang berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk melakukan operasi pasar atau memberikan solusi nyata guna menstabilkan harga pangan.