Loading...

Uni Afrika Sukses Gugat Peta Mercator di PBB Lewat Resolusi Equal Earth

2026-09-05 NEWS PETA, PBB, UNI AFRIKA
Ilustrasi perbandingan Peta Mercator dan proyeksi peta dunia modern

Ilustrasi perbandingan Peta Mercator dan proyeksi peta dunia modern

Share:

Majelis Umum PBB resmi memenangkan resolusi yang diajukan oleh Uni Afrika untuk mengevaluasi penggunaan Peta Mercator warisan abad ke-16. Resolusi bertajuk 'The Correct Map' ini mendorong dunia beralih ke proyeksi Equal Earth agar ukuran benua, khususnya Afrika, digambarkan secara proporsional dan akurat.

“"Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil," ujar Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey.”

— Uni Afrika

Sebuah kejutan besar terjadi di ruang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhir pekan ini setelah pemungutan suara memenangkan resolusi yang diusulkan oleh negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika (AU). Resolusi 'The Correct Map' tersebut berhasil membongkar kemapanan dunia Barat atas gambar peta bumi yang telah dipakai selama berabad-abad, yaitu Peta Mercator.

Lewat hasil voting dalam sidang umum tersebut, dunia kini didorong untuk mengakui peta baru bumi di bidang datar yang menggambarkan benua Afrika dengan perbandingan ukuran yang riil. Keputusan ini mengevaluasi gambaran global mengenai ukuran benua Afrika yang dinilai menyusut tidak sesuai realitas selama lebih dari 450 tahun terakhir.

Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menyatakan pentingnya keadilan dalam representasi visual geografis dunia saat diwawancarai menjelang pemungutan suara di markas PBB, New York. "Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil," kata Robert Dussey menegaskan tujuan dari inisiatif pembaruan peta global tersebut.

Melalui resolusi tersebut, pemerintah, sekolah, organisasi internasional, serta perusahaan teknologi di seluruh dunia didorong untuk mulai menghentikan penggunaan Peta Mercator. Togo sendiri menargetkan penggantian peta lama ini di lingkungan pendidikan kelas sekolah setidaknya mulai akhir tahun ini.

Sejarah Peta Mercator dan Distorsi Ukuran Benua

Peta Mercator pertama kali dikembangkan oleh seorang kartografer bernama Gerardus Mercator pada pertengahan abad ke-16, tepatnya tahun 1569. Proyeksi silindris ini awalnya diciptakan untuk mempermudah navigasi maritim karena garis lintang dan bujur digambarkan sebagai garis lurus yang saling berpotongan tegak lurus.

Kendati fungsional untuk navigasi laut pada masanya, proyeksi tersebut mendistorsi ukuran relatif daratan dengan memperbesar wilayah yang berada lebih dekat ke kutub. Akibat distorsi ini, wilayah seperti Greenland tampak hampir setara ukurannya dengan Afrika, padahal luas daratan Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lipat lebih besar dari Greenland.

Banyak kritikus meyakini bahwa Peta Mercator tetap dipertahankan selama berabad-abad karena secara visual melebih-lebihkan serta memusatkan negara-negara Barat. Hal tersebut dinilai turut melanggengkan gagasan superioritas Eropa dalam struktur persepsi global masyarakat modern.

Kampanye penggantian peta ini pun dikaitkan oleh para pemimpin Afrika sebagai langkah nyata untuk menghapus warisan era kolonisasi yang lebih luas. Meskipun demikian, para pejabat menegaskan bahwa gerakan ini sama sekali bukan bentuk serangan terhadap Eropa ataupun peradaban mana pun.

Respons Global dan Kehadiran Proyeksi Equal Earth

Sebagai solusi pengganti, sekelompok kartografer telah meluncurkan proyeksi peta bernama Equal Earth pada tahun 2018 lalu. Proyeksi ini dinilai mampu mempertahankan luas permukaan relatif dari setiap benua dengan jauh lebih akurat pada bidang datar.

Dukungan terhadap resolusi ini datang dari berbagai pihak, termasuk Prancis yang melalui Menteri Luar Negerinya, Jean-Noël Barrot, mengumumkan rencana Paris untuk meninggalkan Mercator. Prancis memandang bahwa mengoreksi representasi yang terdistorsi merupakan sebuah tindakan kebenaran meskipun tidak serta-merta mengubah dunia secara langsung.

Di sisi lain, penolakan tegas datang dari Amerika Serikat yang menjadi satu-satunya negara memberikan suara menolak resolusi tersebut. Perwakilan Amerika Serikat menilai inisiatif tersebut sebagai proyek ideologis radikal yang dinilai politis dan berpotensi mengganggu kredibilitas lembaga PBB.

Selain Amerika Serikat, terdapat enam negara lain yang memilih untuk abstain dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB, yakni Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina. Pergeseran penggunaan peta ini juga berimplikasi pada tampilan wilayah negara besar seperti AS, Rusia, dan Prancis yang akan terlihat lebih kecil dibandingkan wilayah-wilayah di sekitar khatulistiwa.

Leave a Comment