Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp17.695 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi. Penguatan mata uang Garuda ini ditopang oleh koreksi dolar AS menyusul data ketenagakerjaan ADP yang lebih lemah dari perkiraan.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data pekerjaan AS, ADP, yang lebih lemah. Namun penguatan akan terbatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang tinggi," ujar Analis Doo Financial Futures Lukman Leong.”
— Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.695 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda tercatat menguat sebesar 68 poin atau 0,38 persen jika dibandingkan dengan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan positif rupiah ini terjadi seiring dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga bergerak menguat terhadap dolar AS pada awal sesi perdagangan.
Berdasarkan pantauan pasar regional, penguatan mata uang Asia meliputi yuan China yang naik 0,03 persen, dolar Singapura menguat 0,03 persen, serta peso Filipina yang naik 0,04 persen.
Selain itu, penguatan juga dialami oleh yen Jepang yang bertambah 0,11 persen dan ringgit Malaysia yang terapresiasi sebesar 0,19 persen di hadapan mata uang Paman Sam.
Dinamika Mata Uang Regional dan Global
Di tengah tren penguatan mayoritas mata uang Asia, sejumlah mata uang regional lainnya justru tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada sesi pagi ini.
Won Korea Selatan tercatat terdepresiasi sebesar 0,05 persen, sementara dolar Hong Kong mengalami koreksi tipis sebesar 0,01 persen pada awal perdagangan.
Untuk kelompok mata uang utama negara maju, pergerakan terpantau bervariasi dengan euro Eropa turun 0,01 persen, poundsterling Inggris melemah 0,01 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,04 persen.
Sementara itu, pergerakan positif dicatat oleh dolar Kanada yang menguat 0,04 persen, sedangkan franc Swiss terpantau bergerak datar tanpa perubahan signifikan.
Read Also
Harga Minyak Mentah RI ICP Naik Jadi US$ 89,43 per Barel Ini Pemicunya
Kementerian ESDM merilis harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang naik...
Sejarah Industri Elektronik Perkembangan Teknologi dan Perangkat Modern
Industri elektronik adalah sektor global yang memproduksi berbagai perangkat...
Profil Framatome Perusahaan Pemimpin Teknologi Reaktor Nuklir Global
Framatome adalah perusahaan terkemuka asal Prancis yang mengkhususkan diri...
Purbaya Sebut Anggaran Pembukaan Rekening 200 Juta Warga Belum Final
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa anggaran untuk...
Faktor Pendorong dan Proyeksi Pasar
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong oleh koreksi dolar AS setelah rilis data ketenagakerjaan ADP Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih lemah.
Meskipun demikian, ia menilai ruang penguatan rupiah masih akan tertahan oleh sejumlah sentimen negatif global yang membayangi pasar keuangan internasional.
Lukman Leong menyampaikan pandangannya mengenai kondisi tersebut. "Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data pekerjaan AS, ADP, yang lebih lemah. Namun penguatan akan terbatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang tinggi," ujarnya kepada media.
Berdasarkan proyeksi analis, rentang pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS.