Loading...

Airlangga Ungkap Saldo Awal Rekening Masyarakat Rp50 Ribu Bisa Ditarik

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan

Share:

Pemerintah memastikan bahwa saldo awal sebesar Rp50 ribu yang diberikan kepada masyarakat melalui program pembukaan rekening baru dapat ditarik oleh pemiliknya. Program yang bersumber dari APBN ini ditargetkan bagi sekitar 200 juta penduduk Indonesia.

“"Bisa, bisa ditarik (saldo awal Rp50 ribu)," ujar Airlangga Hartarto.”

— Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa saldo awal sebesar Rp50 ribu yang diberikan pemerintah dalam rekening masyarakat dapat ditarik oleh masing-masing pemiliknya. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas akses layanan keuangan bagi seluruh warga.

"Bisa, bisa ditarik (saldo awal Rp50 ribu)," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9). Pernyataan tersebut sekaligus memperjelas pemanfaatan dana awal yang disiapkan melalui perbankan milik negara.

Pemerintah sebelumnya merencanakan pemberian saldo awal Rp50 ribu untuk rekening masyarakat yang disiapkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Sumber anggaran untuk pendanaan awal tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dengan target sekitar 200 juta penduduk, Airlangga memperkirakan total kebutuhan anggaran untuk program ini mencapai sekitar Rp11 triliun. Namun, pencairannya tidak dilakukan sekaligus melainkan secara bertahap.

Skema Anggaran dan Konsolidasi Rekening Warga

Meskipun membutuhkan anggaran yang besar, pemerintah memastikan bahwa mekanisme penganggaran masih akan dibahas secara mendalam bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Anggaran nanti kita bahas, karena kan enggak semuanya langsung segitu. Kan nanti itunya secara bertahap," kata Airlangga.

Program rekening ini tidak hanya diprioritaskan bagi warga yang baru memasuki usia 17 tahun, tetapi juga akan dikonsolidasikan dengan rekening yang telah dimiliki oleh masyarakat sebelumnya. Langkah ini dilakukan agar pengelolaan bantuan pemerintah menjadi lebih terpusat dan efisien.

"Nanti dikonsolidasi. Jadi kalau rekening ini kan untuk berbagai program pemerintah. Jadi nanti dikonsolidasi di BRI maupun di BSI. Nanti yang punya multiple account juga nanti kita lihat," ujarnya menegaskan sistem integrasi tersebut.

Pemerintah menargetkan program ini dapat mulai berjalan sebelum akhir tahun setelah seluruh regulasi, pembahasan teknis, dan timeline pelaksanaan dirumuskan melalui Dewan Nasional Keuangan Inklusif.

Pemanfaatan Data Dukcapil dan Sistem Pembayaran QRIS

Proses pembukaan rekening massal ini nantinya akan memanfaatkan data kependudukan dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), khususnya berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Meskipun demikian, teknis pembukaan apakah warga perlu datang langsung ke bank masih dalam tahap pematangan.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah pernah menerapkan mekanisme serupa pada periode sebelumnya melalui penyaluran dana langsung dari Kementerian Keuangan ke rekening penerima manfaat. Pengalaman ini menjadi landasan kuat bagi kelancaran program perbankan nasional.

Rekening baru tersebut nantinya dapat difungsikan untuk berbagai keperluan program pemerintah, termasuk penyaluran beragam jenis bantuan sosial secara tepat sasaran. Khusus bagi pelaku UMKM, sistem rekening ini juga dirancang untuk mendukung pembayaran QRIS tanpa biaya bagi para pedagang.

Inisiatif strategis ini merupakan bentuk tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses kepemilikan rekening perbankan resmi.

Leave a Comment