Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendesak Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk memberikan kredit berbunga murah kepada sektor-sektor industri andalan ekspor yang kini tertekan akibat persaingan global.
“Kita lihat lagi sektor-sektor kita yang terdesak oleh globalisasi yang dahulu unggul, seperti tekstil, sepatu, dan baja, apakah bisa kita bantu, karena mereka menyatakan saat ini sulit mendapatkan pinjaman,", ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.”
— Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi meminta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank untuk memberikan pembiayaan berbunga murah kepada berbagai sektor industri yang tengah mengalami tekanan berat akibat persaingan global yang semakin ketat.
Purbaya memberikan perhatian khusus pada sejumlah industri yang selama ini menjadi andalan ekspor nasional, seperti sektor tekstil, alas kaki, furnitur, hingga baja, yang kini menghadapi tantangan besar untuk bisa bertahan dan terus berkembang di tengah dinamika pasar internasional.
Menurut Purbaya, banyak pelaku usaha di sektor-sektor tersebut mengeluhkan sulitnya memperoleh akses pembiayaan dengan biaya yang terjangkau dari lembaga keuangan konvensional saat ini. "Kita lihat lagi sektor-sektor kita yang terdesak oleh globalisasi yang dahulu unggul, seperti tekstil, sepatu, dan baja, apakah bisa kita bantu, karena mereka menyatakan saat ini sulit mendapatkan pinjaman," ujar Purbaya dalam acara Indonesia Eximbank Export Connect di Jakarta.
Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap LPEI dapat mengambil peran aktif untuk menyelamatkan industri padat karya dan andalan ekspor dari ancaman kemunduran serta meningkatkan kembali daya saing di kancah global.
Arahan Khusus dan Evaluasi Kinerja LPEI
Purbaya meminta agar LPEI tidak hanya menunggu, melainkan aktif mendatangi para pelaku industri secara langsung dan menawarkan skema pembiayaan dengan tingkat suku bunga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan pembiayaan komersial pada umumnya.
Sebagai lembaga pembiayaan ekspor, LPEI didorong untuk proaktif menjalin komunikasi dengan para pelaku usaha tekstil, furnitur, dan sektor lainnya guna mendengarkan kendala serta merumuskan solusi pendanaan yang tepat.
Bahkan, Purbaya membuka peluang untuk menurunkan target pendapatan bunga LPEI apabila ketentuan tersebut dinilai justru menghambat efektivitas lembaga dalam menjalankan mandat negara sebagai penyokong perekonomian.
"Bila masih ketinggian juga, nanti saya lihat, apakah KPI pendapatan bunga LPEI perlu diturunkan, tidak perlu tinggi tapi efektif menjawab harapan pelaku usaha. Kan saya yang menentukan parameter kinerjanya," tegas Purbaya terkait evaluasi parameter kinerja tersebut.
Read Also
Sejarah Stock Certificate Dokumen Legal Kepemilikan Saham Korporasi
Stock certificate atau sertifikat saham adalah dokumen hukum yang...
Sejarah Business Standard Koran Bisnis Terkemuka di India
Business Standard adalah surat kabar harian berbahasa Inggris dan Hindi yang...
Profil Krone Norwegia Mata Uang Resmi Kerajaan Norwegia
Krone Norwegia dengan kode mata uang NOK adalah alat pembayaran sah di...
Sejarah Mata Uang yang Beredar di Seluruh Dunia
Terdapat ratusan mata uang yang diakui sebagai alat pembayaran sah di...
Transformasi LPEI dan Dukungan Sektor Strategis
Arahan strategis tersebut disampaikan bertepatan dengan momentum transformasi LPEI yang kini telah memasuki usia ke-17 tahun dalam menjalankan fungsinya sebagai motor penggerak ekspor nasional.
Sebagai policy bank sekaligus Special Mission Vehicle (SMV) milik pemerintah, LPEI mengemban mandat utama untuk mengisi celah dan kesenjangan pembiayaan yang belum dapat terlayani dengan baik oleh lembaga keuangan komersial.
Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso menyatakan bahwa arahan tegas dari Menteri Keuangan semakin memperkuat orientasi lembaganya yang tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial, melainkan juga memberikan dampak ekonomi yang luas.
"Nilai yang kami bawa tidak berhenti pada pembiayaan, tetapi dirumuskan melalui Beyond Financing, Developmental Impact, dan Sustainability," kata Sukatmo dalam menanggapi mandat penguatan sektor strategis seperti tekstil dan baja.