Performa impresif Inter Milan di kompetisi domestik berbanding terbalik dengan catatan buruk mereka di Eropa. Tim asuhan Cristian Chivu menelan kekalahan keenam dari tujuh laga terakhir di Liga Champions usai takluk 2-1 dari Real Madrid.
“Chivu's expansive tactical system succeeds in Serie A, but it exposes severe defensive frailties against elite European opposition.”
— Inter Milan
Inter Milan kembali harus menelan pil pahit di panggung Eropa setelah menderita kekalahan 2-1 dari Real Madrid di Stadion Santiago Bernabéu pada hari Selasa. Hasil minor ini semakin memperpanjang rekor buruk Nerazzurri yang telah kalah dalam enam dari tujuh pertandingan terakhir mereka di ajang Liga Champions.
Performa kontras ini menjadi sorotan tajam karena Inter tampil gemilang di kompetisi domestik di bawah arahan pelatih Cristian Chivu. Namun, transisi dari liga lokal ke level Eropa menghadirkan tantangan berat yang belum mampu diatasi dengan baik oleh skuad asuhannya.
Meskipun sempat mendominasi penguasaan bola di Madrid, lini pertahanan Inter kerap kewalahan menghadapi gempuran lawan. Penjaga gawang Josep Martínez bahkan harus bekerja keras mementahkan berbagai peluang emas untuk menghindari kekalahan yang lebih telak.
Kekalahan ini mempertegas pekerjaan rumah bagi manajemen dan staf pelatih untuk segera mengevaluasi kesiapan taktik tim saat menghadapi klub-klub elite Eropa pada pertandingan-pertandingan selanjutnya di fase grup.
Perbandingan Era Kepelatihan dan Masalah Taktik
Perbedaan mencolok terlihat jika dibandingkan dengan era kepelatihan sebelumnya di bawah Simone Inzaghi. Inzaghi sukses membawa Nerazzurri melaju ke dua final Eropa dalam kurun waktu tiga musim dengan catatan rekor yang jauh lebih stabil dan solid.
Sebaliknya, Cristian Chivu justru harus menelan enam kekalahan dari 11 pertandingan pertamanya di Liga Champions. Tim asuhannya tercatat kebobolan rata-rata dua gol per pertandingan, sebuah angka yang mengkhawatirkan bagi tim sebesar Inter.
Jurnalis Tuttosport, Stefano Pasquino, menuliskan bahwa sistem taktik terbuka yang diterapkan Chivu sangat sukses ketika berlaga di Serie A. Contoh nyatanya terlihat saat mereka sukses membalikkan keadaan dan menang dramatis 3-2 atas Napoli berkat keunggulan kualitas individu.
Kendati demikian, pendekatan taktik menyerang tersebut justru mengeksploitasi kelemahan pertahanan yang cukup parah saat menghadapi lawan-lawan tangguh di level tertinggi sepak bola benua biru.
Read Also
Liliyana Natsir Ungkap Kondisi Sektor Ganda Campuran Indonesia Jelang Asian Games 2026
Legenda bulu tangkis Indonesia Liliyana Natsir menilai sektor ganda campuran...
Manchester United Menang Telak atas Sabah dalam Laga Perdana Liga Champions
Manchester United mengawali kembalinya mereka ke Liga Champions dengan...
Arsenal Segera Umumkan Kontrak Baru Mikel Arteta Menjelang Akhir Tahun
Arsenal dikabarkan semakin dekat untuk mengumumkan perpanjangan kontrak...
Franco Mastantuono Cetak Hattrick dan Bawa Fiorentina Raih Kemenangan Perdana di Serie A
Franco Mastantuono mencetak hattrick untuk membawa Fiorentina meraih...
Evaluasi Pertahanan dan Harapan ke Depan
Kerentanan lini belakang Inter terlihat jelas dari kurangnya keseimbangan struktural tim ketika berada dalam posisi kehilangan bola di lapangan. Situasi ini dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemain lini depan Real Madrid untuk menciptakan setidaknya enam peluang bersih.
Berbeda dari gaya permainan era Inzaghi yang sangat piawai bertahan di area sendiri serta mengelola transisi pertahanan dengan rapi, skuad saat ini masih mencari bentuk konsistensi terbaiknya di kancah internasional.
Para pengamat sepakat bahwa juru taktik asal Rumania tersebut harus segera menemukan solusi konkret guna memperbaiki keroposnya lini pertahanan agar tidak terus-menerus tertinggal di level elite Eropa.
Apabila masalah berulang pada sektor pertahanan ini tidak segera dibenahi, Inter Milan diprediksi akan terus kesulitan bersaing secara kompetitif dengan klub-klub papan atas lainnya di Liga Champions musim ini.