Legenda bulu tangkis Indonesia Liliyana Natsir menilai sektor ganda campuran Merah Putih masih memerlukan waktu untuk kembali bersaing di level tertinggi menjelang Asian Games 2026. Ia menyoroti komposisi pasangan di Pelatnas PBSI yang belum sepenuhnya mapan.
“Saya bilang mixed double memang agak ketinggalan, jujur kita ngomong Indonesia ya," ujar Liliyana Natsir.”
— Liliyana Natsir
Legenda bulu tangkis Indonesia Liliyana Natsir menilai sektor ganda campuran nasional masih membutuhkan waktu untuk kembali bersaing di level tertinggi menjelang pelaksanaan Asian Games 2026. Peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 tersebut menyoroti belum tetapnya komposisi pasangan di Pelatnas PBSI saat ini.
Menurut perempuan yang akrab disapa Butet itu, seringnya pergantian pasangan membuat proses membangun kekompakan belum berjalan secara maksimal di atas lapangan. Di sisi lain, PP PBSI telah menetapkan dua pasangan sebagai wakil Indonesia pada ajang terdekat tersebut.
Dua pasangan yang akan diandalkan adalah Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah serta Nikolaus Joaquin/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Selain itu, kembalinya Nova Widianto sebagai pelatih kepala ganda campuran turut menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor tersebut.
Liliyana mengakui secara jujur bahwa Indonesia saat ini tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing utama di sektor ganda campuran dunia. Namun, ia menegaskan bahwa proses membentuk pasangan yang tangguh tidak bisa dilakukan secara instan.
Proses Membangun Chemistry dan Tantangan PBSI
Pemain dengan kualitas individu yang bagus belum tentu bisa langsung cocok ketika disatukan dengan rekan baru di dalam tim nasional. Proses adaptasi dan pencarian chemistry antar pemain memerlukan tahapan yang konsisten agar mampu tampil optimal.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, Liliyana meyakini bahwa PBSI akan berusaha secara maksimal demi menghadapi agenda besar ke depan. Fokus utama pembinaan jangka panjang juga diarahkan untuk menghadapi ajang Olimpiade Los Angeles 2028.
Ia berharap PBSI terus bekerja keras menjaga tradisi Indonesia agar selalu memiliki wakil yang kompetitif di multievent internasional. Target utamanya adalah kembali meraih medali tanpa harus membebani atlet dengan ekspektasi warna medali yang terlalu tinggi.
Kondisi saat ini masih memerlukan proses panjang mengingat pasangan utama di Pelatnas belum benar-benar terbentuk secara permanen. Penggemar dan publik bulu tangkis tanah air diminta untuk bersabar menanti kebangkitan sektor ini.
Read Also
Inter Milan Tetap Percaya pada Kiper Utama Josep Martinez Meski Lakukan Blunder
Inter Milan dan pelatih Christian Chivu memutuskan untuk tetap mempercayai...
Liverpool Sepakati Kontrak Sponsor Jersey Senilai £60 Juta per Tahun dengan Turkish Airlines
Liverpool resmi menjalin kerja sama sponsor jersey berdurasi lima tahun...
Crystal Palace Siap Berikan Kontrak Baru untuk Pertahankan Tyrick Mitchell
Crystal Palace dikabarkan siap berjuang habis-habisan untuk menyepakati...
Antonio Raimondo Berikan Awal Gemilang untuk Frosinone Musim Ini
Antonio Raimondo mencatatkan awal musim yang luar biasa bersama Frosinone...
Peran Nova Widianto dan Harapan Masa Depan
Liliyana juga menaruh harapan besar pada sosok Nova Widianto, pelatih kepala yang kembali menangani sektor ganda campuran Indonesia. Nova baru saja menyelesaikan tugas kepelatihannya di Malaysia pada akhir Juli 2026 yang lalu.
Kehadiran pelatih berpengalaman tersebut diyakini mampu membawa formula baru dalam meramu pasangan-pasangan ganda campuran andalan Indonesia. Proses penentuan partner baru tentu membutuhkan waktu pembuktian di turnamen internasional.
"Pasti Coach Nova punya formula baru untuk partner-partnernya mana. Nah itu kan berpartneran butuh waktu lagi, gitu. Ya harapannya sih bisa kekejar sampai Olimpiade nanti," ungkap Butet di Kudus.
Evaluasi berkala terhadap performa atlet dan pasangan baru akan terus dilakukan oleh jajaran pelatih PBSI. Seluruh rangkaian persiapan ini diharapkan mampu membuahkan hasil positif bagi prestasi bulu tangkis Indonesia di kancah global.