Loading...

Data Pekan Pertama Liga Champions Soroti Dominasi Inggris

Pertandingan Liga Champions UEFA musim 2026-2027

Pertandingan Liga Champions UEFA musim 2026-2027

Share:

Pekan pembukaan Liga Champions 2026-27 memperlihatkan dominasi absolut dari klub-klub Premier League Inggris. Di sisi lain, data juga mencatat minimnya kejutan serta sedikitnya pertandingan yang berakhir imbang di awal kompetisi.

“"Mad, and not a madness I like," ujar José Mourinho.”

— Liga Champions UEFA

Kompetisi Liga Champions 2026-27 telah resmi dimulai dengan menyisakan 126 pertandingan sebelum fase gugur. Kendati demikian, pekan pertama telah menyajikan berbagai poin data menarik yang mencerminkan peta kekuatan awal musim ini.

Perwakilan klub-klub Premier League Inggris tampil gemilang dengan menyapu bersih kemenangan pada pekan pembuka. Dominasi tersebut menegaskan kelanjutan performa impresif setelah musim lalu berhasil mengamankan lima dari delapan tempat kualifikasi otomatis.

Secara kolektif, tim-tim asal Inggris mencatatkan statistik luar biasa dengan melepaskan 102 tembakan berbanding 44 milik lawan serta menciptakan 24 peluang emas versi Opta. José Mourinho sempat memberikan komentar terkait jalannya kompetisi dengan menyatakan, "Mad, and not a madness I like."

Selain dominasi Inggris, performa klub Italia di awal turnamen mendapat sorotan tajam setelah mencatatkan selisih gol harapan terendah. Meskipun demikian, beberapa klub seperti Inter Milan tetap menunjukkan penampilan menonjol di laga tandang.

Performa Inter Milan dan Tantangan Wakil Italia

Meskipun statistik Serie A secara keseluruhan kurang menjanjikan, Inter Milan tampil sebagai salah satu tim yang sangat aktif di kotak penalti lawan. Mereka mencatatkan setidaknya 57 sentuhan di area penalti lawan saat menghadapi Real Madrid di Santiago Bernabéu.

Inter Milan mampu mendikte jalannya laga dan menciptakan banyak peluang emas menghadapi raksasa Spanyol tersebut. Keberhasilan ini didukung oleh lini belakang Real Madrid yang menyisakan pemain muda berusia 21 tahun, Dean Huijsen, sebagai satu-satunya pilar dari musim lalu.

Di sisi lain, wakil Italia lainnya seperti AS Roma harus puas bermain imbang melawan Fenerbahce. Hasil tersebut bahkan diwarnai oleh pengunduran diri pelatih Fenerbahce, Ismail Kartal, menyusul hasil imbang yang mengejutkan.

Secara keseluruhan, hanya ada sedikit pertandingan yang berakhir imbang pada dua malam pertama kompetisi. Minimnya hasil imbang ini berpotensi mendongkrak standar perolehan poin yang dibutuhkan tim untuk lolos ke babak playoff.

Minimnya Kejutan dan Tren Poin Fase Liga

Format baru fase liga yang diperluas memerlukan kejutan besar untuk membangkitkan antusiasme penonton. Namun, pekan pembukaan justru minim kejutan dengan hanya dua kemenangan yang diraih oleh tim yang tidak diunggulkan oleh bursa taruhan.

Salah satu kejutan terbesar berdasarkan prediksi pra-pertandingan adalah kemenangan Real Betis dengan skor 3-2 saat bertandang ke markas Lille. Secara peringkat daya (Power Rankings Opta), kedua tim berada di posisi berdekatan sehingga tidak ada jurang kualitas yang terlalu masif.

Tren minimnya hasil imbang pada pekan pertama dapat memengaruhi perolehan total poin pada akhir fase liga. Jika dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya, penurunan jumlah hasil imbang membuat persaingan antar tim menjadi jauh lebih ketat.

Dengan masih panjangnya perjalanan kompetisi hingga babak gugur, konsistensi setiap kontestan akan diuji pada pekan-pekan pertandingan berikutnya. Para pengamat terus memantau apakah dominasi klub-klub unggulan akan terus berlanjut.

Leave a Comment