Crystal Palace diprediksi akan dengan sengaja melanggar batas aturan skuad UEFA sebesar 70 persen pada musim ini. Mantan penasihat keuangan Manchester City, Stefan Borson, menyebut klub asal London Selatan tersebut tidak akan ambil pusing karena sanksi denda yang diberikan tergolong ringan.
“70 persen untuk tes UEFA pada SCR, itu bukan masalah besar. Anda hanya membayar denda yang relatif kecil dan melanjutkan tanpa masalah khusus," ujar Stefan Borson.”
— Crystal Palace
Crystal Palace kemungkinan besar akan secara sengaja melanggar batas aturan UEFA SCR sebesar 70 persen pada musim kompetisi ini. Pernyataan tersebut disampaikan oleh mantan penasihat keuangan Manchester City, Stefan Borson, yang menilai The Eagles siap menghadapi risiko denda dari badan sepak bola Eropa.
Langkah ini muncul menyusul aktivitas bursa transfer musim panas yang relatif tenang, di mana klub London Selatan tersebut hanya menggelontorkan dana sebesar 54 juta poundsterling untuk memperkuat skuad asuhan Pierre Sage.
Keikutsertaan mereka di ajang Liga Europa membuat Palace harus mematuhi batasan SCR yang lebih ketat dibandingkan batas 85 persen yang berlaku di Liga Inggris. Kendati demikian, Borson meyakini bahwa hukuman dari UEFA tidak cukup memberatkan sehingga klub tidak merasa perlu untuk mematuhi aturan tersebut secara ketat.
Beberapa klub Liga Inggris sebelumnya juga pernah dijatuhi denda oleh UEFA akibat pelanggaran batas SCR dalam beberapa tahun terakhir, termasuk klub seperti Newcastle United dan Nottingham Forest.
Pandangan Ahli Keuangan Mengenai Kebijakan dan Sanksi UEFA
Stefan Borson menegaskan bahwa ancaman denda dari UEFA tidak akan menjadi masalah besar bagi manajemen Crystal Palace dalam menjalankan operasional klub. Menurutnya, sanksi finansial yang diterapkan tidak berdampak signifikan terhadap klub-klub level atas.
Borson menjelaskan bahwa dalam pengujian SCR UEFA sebesar 70 persen, klub hanya perlu membayar denda dalam jumlah yang relatif kecil lalu dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa tanpa kendala berarti.
Selain itu, klub yang berlaga di kompetisi Eropa juga harus menghadapi tes pendapatan sepak bola yang memiliki batasan lebih rendah dibandingkan aturan di Liga Inggris. Crystal Palace sendiri dinilai terbantu oleh keuntungan besar dari penjualan pemain seperti Maxence Lacroix dan Daniel Munoz.
Berdasarkan kondisi finansial tersebut, kurangnya pengeluaran klub di bursa transfer diyakini bukan murni disebabkan oleh tekanan regulasi semata, melainkan strategi internal klub.
Read Also
Burnley Ditolak Swansea City saat Ajukan Tawaran Rekrut Zan Vipotnik di Menit Akhir Bursa Transfer
Burnley gagal mengamankan jasa penyerang andalan Swansea City, Zan Vipotnik,...
Tottenham Hotspur Masukkan Folarin Balogun dalam Daftar Incaran Penyerang Baru
Tottenham Hotspur menjadikan striker AS Monaco, Folarin Balogun, sebagai...
Chelsea Sweating Over Mykhailo Mudryk Loan Move to Tottenham as Injury Blow Emerges
Chelsea is reportedly concerned about permanently offloading Mykhailo Mudryk...
Como Masuk 20 Besar Tim Paling Berharga di Liga Champions 2026-27 Berdasarkan Transfermarkt
Klub Serie A Como 1907 mencatatkan sejarah baru dengan memenangkan...
Loyalitas Pemain dan Situasi Skuad di Tengah Batasan Finansial
Di tengah isu regulasi finansial, internal klub juga diwarnai oleh sikap terpuji dari gelandang muda Adam Wharton. Mantan kepala pemandu bakat Manchester United, Mick Brown, menyatakan bahwa Wharton telah menunjukkan kesetiaan luar biasa kepada klub.
Meskipun terus dikaitkan dengan kepindahan ke klub-klub papan atas Liga Inggris, pemain timnas Inggris tersebut memilih untuk bertahan di Selhurst Park dan menolak memaksakan kepergiannya.
Manajemen Crystal Palace berencana untuk menghargai loyalitas yang ditunjukkan oleh Wharton dengan cara memfasilitasi kepindahannya secara baik pada masa mendatang apabila tawaran yang pas datang.
Sikap profesional yang ditunjukkan oleh Wharton ini dinilai sangat kontras dibandingkan beberapa rekan setimnya, sekaligus memberikan kestabilan bagi skuad Crystal Palace dalam menghadapi ketatnya kompetisi musim ini.