Loading...

Bukan Gadget atau Fashion, Makanan Justru Jadi Self-Reward Utama Gen Z

Ilustrasi makanan lezat yang sering dijadikan sebagai bentuk self-reward oleh kalangan Generasi Z

Ilustrasi makanan lezat yang sering dijadikan sebagai bentuk self-reward oleh kalangan Generasi Z

Share:

Hasil riset tim mahasiswa UGM menunjukkan bahwa makanan menjadi bentuk self-reward paling populer di kalangan Gen Z, mengalahkan gadget dan produk fashion. Penelitian ini juga menyoroti kaitan antara literasi keuangan dan kebiasaan belanja impulsif.

“"Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung," ujar Anggita.”

— Universitas Gadjah Mada

Kebiasaan memberikan hadiah kepada diri sendiri atau yang dikenal sebagai self-reward kini semakin lekat dengan gaya hidup Generasi Z di Indonesia. Namun, bentuk penghargaan tersebut ternyata tidak selalu berupa barang mewah atau mahal seperti perangkat gawai dan pakaian modis.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), makanan justru menjadi pilihan utama self-reward yang paling populer di kalangan kelompok usia tersebut. Sebanyak 42 persen responden tercatat memilih makanan sebagai cara terbaik untuk mengapresiasi kerja keras diri sendiri.

Sementara itu, sebanyak 33,5 persen responden memilih membeli produk barang, dan 24,5 persen lainnya memilih melakukan self-reward tanpa harus melibatkan pembelian barang fisik. Riset ini dilakukan untuk memahami pola perilaku konsumsi di tengah generasi muda.

Penelitian tersebut diinisiasi oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) UGM guna melihat hubungan erat antara literasi keuangan, kecenderungan pembelian impulsif, dan pola pengambilan keputusan konsumsi Gen Z.

Latar Belakang Riset dan Pengaruh Digital

Tim peneliti UGM yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai bidang ini tertarik mengkaji kebiasaan harian yang tampak sederhana namun berdampak besar pada kesehatan finansial jangka panjang. Kebiasaan kecil ini mencerminkan kondisi psikologis dan ekonomi anak muda.

Anggota tim riset, Anggita Rasya Ananta, menjelaskan bahwa keputusan memberi penghargaan kepada diri sendiri sangat berkaitan erat dengan kondisi keuangan serta paparan informasi digital setiap harinya. Kemudahan transaksi saat ini mempercepat proses pembelian.

Perkembangan teknologi membuat Gen Z terus menerus terpapar oleh berbagai rekomendasi produk, tren terkini, promosi menarik, hingga konten komersial melalui media sosial. Kondisi ini membuat keinginan cepat berubah menjadi transaksi nyata.

Paparan masif tersebut seringkali memicu dorongan emosional yang kuat untuk segera menikmati hasil kerja melalui pembelian kuliner atau barang konsumtif lainnya sebagai bentuk pelarian penat.

Hubungan Literasi Keuangan dan Pembelian Impulsif

Temuan menarik lainnya dari riset ini adalah kenyataan bahwa memiliki tingkat literasi keuangan yang baik belum tentu sepenuhnya mampu mencegah seseorang dari perilaku belanja impulsif. Pengetahuan teori tidak selalu sejalan dengan praktik.

Seseorang mungkin paham betul pentingnya menabung, membuat alokasi anggaran bulanan, serta membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan semata, namun tetap terdorong mencari kepuasan instan. Dorongan psikologis sering kali mengalahkan logika finansial.

"Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung," jelas Anggita.

Riset ini melibatkan total 384 responden dari kalangan Gen Z untuk menggali data faktual terkait kebiasaan konsumsi tersebut tanpa memberikan asumsi berlebihan di luar temuan lapangan.

Leave a Comment