Loading...

Profil Teknologi Time-division multiplexing

Diagram konseptual teknologi time-division multiplexing dalam sistem transmisi jaringan telekomunikasi

Diagram konseptual teknologi time-division multiplexing dalam sistem transmisi jaringan telekomunikasi

Share:

Time-division multiplexing (TDM) adalah metode transmisi dan penerimaan sinyal independen melalui jalur umum menggunakan sakelar sinkron. Teknologi ini dikembangkan sejak era telegrafi abad ke-19 hingga menjadi fondasi penting dalam telepon digital modern.

Time-division multiplexing (TDM) adalah metode penting untuk mentransmisikan dan menerima sinyal independen melalui jalur sinyal umum. Sistem ini memanfaatkan sakelar sinkron di setiap ujung jalur transmisi agar setiap sinyal muncul di jalur hanya dalam fraksi waktu tertentu sesuai aturan yang disepakati. Metode ini sangat berguna ketika laju bit dari media transmisi melebihi sinyal yang akan dikirimkan.

Bentuk multiplexing sinyal ini awalnya dikembangkan dalam bidang telekomunikasi untuk sistem telegrafi pada akhir abad ke-19. Seiring berjalannya waktu, TDM menemukan aplikasi paling umum dalam telepon digital pada paruh kedua abad ke-20. Perkembangan ini memungkinkan efisiensi penggunaan pita frekuensi dan jalur kabel yang terbatas secara signifikan.

Penerapan awal TDM membantu menghubungkan komunikasi militer jarak jauh dan transmisi komersial gelombang mikro. Inovasi berlanjut dengan diperkenalkannya bank kanal digital yang menggabungkan puluhan panggilan suara ke dalam satu jalur transmisi tunggal. Hal ini merevolusi cara jaringan telepon publik beroperasi dan menangani lalu lintas data suara.

Hingga kini, konsep dasar TDM terus berkembang dan diintegrasikan ke dalam berbagai protokol transmisi modern seperti Synchronous Digital Hierarchy (SDH). Meskipun teknologi jaringan telah beralih ke sistem berbasis paket, prinsip-prinsip multiplexing waktu tetap menjadi landasan penting dalam sejarah teknik telekomunikasi global.

Sejarah Pendirian dan Awal Mula

Time-division multiplexing pertama kali dikembangkan untuk aplikasi dalam telegrafi guna merutekan beberapa transmisi secara bersamaan melalui satu jalur tunggal. Pada tahun 1870-an, Émile Baudot merintis sistem time-multiplexing yang menggabungkan beberapa mesin telegraf Hughes. Inovasi ini menjadi tonggak penting dalam sejarah awal peningkatan kapasitas jalur komunikasi telegraf.

Perkembangan teknologi ini berlanjut pada tahun 1944 ketika Angkatan Darat Britania Raya menggunakan Wireless Set No. 10 untuk memultipleks 10 percakapan telepon melalui gelombang mikro sejauh 50 mil. Sistem darurat tersebut memungkinkan para komandan di lapangan untuk tetap berkomunikasi dengan staf di Inggris melintasi Selat Inggris dengan andal.

Pada tahun 1953, sebuah pengmultipleks pembagian waktu 24 saluran mulai dioperasikan secara komersial oleh RCA Communications. Perangkat ini mengirimkan informasi audio antara fasilitas RCA di New York, stasiun pemancar Rocky Point, dan stasiun penerima di Riverhead menggunakan sistem gelombang mikro yang dikembangkan oleh laboratorium RCA.

Tonggak besar berikutnya terjadi pada tahun 1962 ketika para insinyur dari Bell Labs mengembangkan bank kanal D1 pertama. Perangkat ini berhasil menggabungkan 24 panggilan suara digital melalui jalur tembaga empat kawat di antara sakelar analog kantor pusat Bell, yang membuka jalan era digitalisasi jaringan telekomunikasi.

Perkembangan dan Inovasi Teknologi

Time-division multiplexing utamanya digunakan untuk sinyal digital, namun juga dapat diterapkan dalam multiplexing analog. Dalam sistem ini, domain waktu dibagi menjadi beberapa slot waktu tetap di mana sampel atau blok data dari setiap sub-kanal dikirimkan secara bergantian sesuai urutan siklus yang terstruktur rapi.

Teknologi TDM dapat diperluas lebih lanjut ke dalam skema time-division multiple access (TDMA) yang memungkinkan beberapa stasiun terhubung ke media fisik yang sama untuk berkomunikasi. Penerapan sistem ini sangat penting dalam jaringan tersambung sirkuit seperti public switched telephone network untuk memanfaatkan lebar pita secara optimal.

Untuk mengatasi keterbatasan sistem hierarki digital sebelumnya, dikembangkanlah Synchronous Digital Hierarchy (SDH) sebagai protokol transmisi utama. SDH memungkinkan penggabungan aliran data berkecepatan tinggi menggunakan serat optik berkecepatan tinggi yang memanfaatkan transmisi cahaya serta wavelength-division multiplexing.

Variasi lanjutan dari teknologi ini adalah statistical time-division multiplexing (STDM) yang mengalokasikan slot waktu berdasarkan kebutuhan data aktual dari terminal. Pendekatan dinamis ini meningkatkan efisiensi penggunaan pita lebar secara drastis pada berbagai jaringan komunikasi modern di seluruh dunia.

Leave a Comment