Misi Terakhir Messi, Meniru Kejayaan Maradona di Laga Klasik Kontra Inggris
- Lionel Messi berpeluang melengkapi warisan emasnya di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi rival historis Argentina, Inggris, di babak semifinal.
- Pertemuan Argentina dan Inggris selalu diselimuti sejarah rivalitas panas sejak Piala Dunia 1966 hingga laga ikonik "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada 1986.
- Meskipun Inggris lebih diunggulkan dengan skuad mudanya, Messi membawa misi personal untuk mengulang petualangan spektakuler Maradona.
Sebelum sepak mula Piala Dunia keenam bagi Lionel Messi, konsensus umum meyakini bahwa megabintang berusia 39 tahun itu telah mencapai segalanya di dunia sepak bola. Setelah menyempurnakan kariernya dengan mengangkat trofi di Qatar empat tahun lalu, muncul kekhawatiran bahwa ia tidak lagi memiliki ambisi tersisa. Namun, Messi terus membungkam keraguan tersebut dengan memecahkan rekor sebagai pencetak gol dan pemberi assist terbanyak sepanjang masa Piala Dunia demi membawa Argentina menembus babak semifinal.
Di babak empat besar ini, Argentina dijadwalkan bersua musuh bebuyutan mereka, Inggris. Pelatih Albiceleste, Lionel Scaloni, langsung bergerak cepat untuk meredakan ketegangan politik dan historis yang menyelimuti pertandingan ini. "Ini hanyalah sebuah pertandingan sepak bola, oke? Kami akan bermain melawan tim tangguh dengan pelatih yang luar biasa, itu saja," ujar Scaloni dalam konferensi pers menjelang laga panas tersebut.
Kendati Scaloni mencoba bersikap diplomatis, sejarah mencatat bahwa duel Argentina kontra Inggris tidak pernah menjadi laga biasa. Rivalitas kedua negara berakar kuat sejak Piala Dunia 1966 ketika manajer Inggris, Alf Ramsey, menjuluki para pemain Argentina sebagai "binatang". Puncaknya terjadi pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko, di mana Diego Maradona mencetak gol kontroversial "Tangan Tuhan" sekaligus gol solo terbaik sepanjang masa hanya dalam selang waktu empat menit.
Laga di Atlanta ini memang tidak akan sepadat tensi politik Perang Falklands seperti tahun 1986 silam, tetapi motivasi skuad Argentina dipastikan tetap membara. Selepas kemenangan dramatis di babak perempat final, para pemain Argentina dilaporkan bernyanyi di ruang ganti dan berjanji memenangkan laga. Mereka mendedikasikan kemenangan ini untuk rakyat Malvinas, mendiang Diego Maradona, dan turnamen terakhir bagi kapten mereka, Leo Messi.
Meski di atas kertas Inggris yang dimotori Harry Kane dan Jude Bellingham lebih difavoritkan, magis Messi tidak bisa diremehkan begitu saja. Menaklukkan Inggris di fase krusial Piala Dunia adalah satu-satunya kepingan puzzle yang belum pernah dirasakan dalam karier gemilang sang pemilik nomor punggung 10 tersebut. Publik kini menanti apakah laga semifinal ini akan menjadi panggung petualangan personal yang spektakuler bagi Messi untuk menyamai mitologi Maradona.