Kena Mental! Taktik Pengecut Tuchel Bikin Messi dan Argentina Sikat Inggris ke Final Piala Dunia
- Inggris gagal melaju ke final Piala Dunia setelah kena comeback menyakitkan dari Argentina dengan skor 1-2 meski sempat unggul lebih dulu.
- Manajer Inggris Thomas Tuchel dihujani kritik tajam akibat pergantian pemain yang terlalu defensif dan membuat Three Lions kehilangan dominasi.
- Lionel Messi tampil sebagai pahlawan Argentina di usia 39 tahun dengan mencetak dua assist krusial untuk membawa Tim Tango menantang Spanyol di final.
Mimpi Tim Nasional Inggris untuk menyudahi puasa gelar sejak 1966 kembali kandas secara tragis di semifinal Piala Dunia. Sempat unggul 1-0 hingga menit ke-80 dan tampil dominan atas juara bertahan Argentina, Three Lions justru harus gigit jari di menit-menit akhir pertandingan. Keputusan kontroversial dari manajer Thomas Tuchel yang dinilai pengecut dan terlalu cepat bermain defensif menjadi biang kerok utama runtuhnya pertahanan Inggris di momen krusial tersebut.
Petaka bagi Inggris dimulai saat Tuchel menarik keluar Anthony Gordon pada menit ke-72 untuk memasukkan bek Ezri Konsa demi mengubah formasi menjadi lima bek. Alih-alih mengamankan kemenangan, strategi ini justru membuat Inggris terkurung habis-habisan oleh armada Lionel Scaloni yang mencatatkan penguasaan bola hingga 88 persen setelah momen itu. "Saya percaya ini hanyalah bagian dari dinamika pertandingan. Begitu Anda kalah, Anda pasti akan dikritik, dan saya menerima kritik itu karena memang begitulah kenyataannya," ujar Tuchel pascapertandingan dengan nada pasrah.
Di sisi lain, kelonggaran yang diberikan lini belakang Inggris langsung dimanfaatkan dengan cerdik oleh megabintang Argentina, Lionel Messi. Meski sempat diredam ketat selama 75 menit pertama, pemain berusia 39 tahun itu membuktikan magisnya belum habis lewat dua assist instan yang membalikkan kedudukan. Puncaknya terjadi saat umpan silang akurat dari kaki kanan Messi berhasil ditanduk dengan sempurna oleh Lautaro Martinez untuk menyegel tiket final bagi La Albiceleste.
Keberhasilan ini melengkapi taktik jenius pelatih Argentina, Lionel Scaloni, yang justru memasukkan lebih banyak pemain menyerang saat melihat Inggris mulai bermain bertahan. Scaloni mengaku mencium kepanikan di kubu lawan dan langsung menginstruksikan timnya untuk terus menekan tanpa ampun. "Ada darah di dalam air dan kami langsung memburunya tanpa ragu," ungkap Scaloni yang kini berpeluang mempersembahkan trofi mayor keempatnya secara beruntun bagi publik Argentina.
Kekalahan memilukan ini juga memperpanjang rekor buruk serta inferiority complex alias sindrom mental inferior yang membayangi skuad Inggris di turnamen besar dunia. Sejak tahun 1998, Tiga Singa tercatat selalu menelan kekalahan setiap kali bertemu dengan tim yang berada di jajaran sepuluh besar peringkat FIFA pada ajang Piala Dunia. Dengan hasil ini, Argentina dipastikan melangkah ke partai puncak untuk menghadapi Spanyol pada hari Minggu nanti, sementara Inggris harus puas berebut medali perunggu melawan Prancis.