Mauricio Pochettino mengungkapkan penyesalannya karena gagal kembali melatih Tottenham Hotspur akibat masalah waktu. Selain itu, ia juga menuntut agar gelar Liga Inggris Chelsea dicabut jika terbukti bersalah atas pelanggaran finansial.
“Jika itu benar, maka kami pantas menjadi juara pada tahun itu, tentu saja," ujar Pochettino mengenai gelar Liga Inggris Chelsea.”
— Mauricio Pochettino
Mauricio Pochettino kembali menjadi sorotan setelah mengungkapkan cerita di balik layar terkait peluangnya kembali melatih Tottenham Hotspur. Mantan juru taktik Spurs itu mengaku bahwa situasi dan waktu yang tidak tepat menjadi penghalang utamanya untuk pulang ke London Utara.
Dalam sebuah wawancara eksklusif di London baru-baru ini, Pochettino menjelaskan bahwa kontak dari klub tidak pernah terjadi di saat ia sedang menganggur. "The problem was that the timings were never the best," ujar Pochettino menjelaskan situasi pelik yang dihadapinya saat manajemen Spurs mencari pelatih baru.
Meskipun saat ini ia tengah fokus mengemban tugas sebagai pelatih tim nasional Amerika Serikat dengan kontrak jangka panjang berdurasi empat tahun, pintu hatinya untuk Tottenham tampaknya tidak pernah tertutup. Ia menegaskan kesiapannya untuk membantu klub tersebut dalam divisi atau situasi apapun tanpa keraguan.
Pernyataan tersebut menunjukkan ikatan emosional yang masih kuat antara sang pelatih asal Argentina dengan para pendukung Spurs, meskipun jalan karier mereka saat ini harus terpisah oleh benua dan target profesional yang berbeda.
Koneksi Mendalam dengan Tottenham Hotspur
Hubungan antara Mauricio Pochettino dan Tottenham Hotspur dibangun atas dasar loyalitas jangka panjang selama lebih dari lima tahun masa kepemimpinannya di masa lalu. Ikatan emosional inilah yang membuat spekulasi kepulangannya selalu menarik perhatian publik pencinta sepak bola Inggris.
Bahkan ketika dihadapkan pada skenario terburuk jika Spurs sempat terperosok ke divisi bawah, Pochettino dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan pernah menganggap pekerjaan di klub tersebut sebagai sesuatu yang berada di bawah standar kariernya. Bagi dirinya, Tottenham memiliki tempat khusus di hatinya.
"Tottenham … it's the only club that always I am open to help in whatever division," ungkapnya ketika membahas seberapa jauh komitmennya terhadap klub yang pernah ia bawa berlaga di panggung tertinggi Eropa tersebut.
Sikap loyalitas tanpa syarat ini jarang ditemukan di era sepak bola modern yang serba pragmatis, menegaskan bahwa warisan mentalitas yang ditinggalkannya di London Utara masih tertanam kuat dalam diri sang pelatih.
Read Also
Everton Lakukan Tiga Rekrutan Musim Panas Terbaik Menurut Pakar Transfer
Everton disebut berhasil melakukan tiga langkah transfer musim panas yang...
Hasil Abroad Timnas Indonesia: Kevin Diks Tumbang, Elkan Baggott Menang Telak
Sejumlah pemain Timnas Indonesia tampil bersama klub masing-masing di Eropa....
West Ham United Diperingatkan untuk Tidak Merekrut Jamie Vardy sebagai Agen Bebas
West Ham United disarankan untuk menjauh dari opsi merekrut mantan penyerang...
Phil Foden Terancam Absen Tiga Pertandingan Usai Kartu Merah di Derby Manchester
Gelandang Manchester City, Phil Foden, harus menerima sanksi larangan...
Tuntutan Pencabutan Gelar Juara Chelsea
Selain membahas masa lalunya bersama Spurs, Pochettino juga memberikan komentar tajam mengenai rival sekota mereka, Chelsea, terkait kasus pelanggaran finansial masa lalu. Ia berpendapat bahwa konsekuensi tegas harus diterapkan demi menjaga integritas kompetisi.
Pochettino secara terbuka menyatakan bahwa jika Chelsea terbukti bersalah melakukan rekayasa finansial pada musim 2016-2017, maka gelar juara yang mereka raih pada saat itu seharusnya dialihkan. Mengingat Spurs finis di posisi kedua di bawah asuhan dirinya, ia merasa timnya adalah pihak yang paling dirugikan.
"If that was true, then we deserve to be champions that year, for sure," tegasnya merujuk pada investigasi serius yang sempat mengguncang Stamford Bridge dan memicu perdebatan panjang di kalangan pengamat sepak bola.
Komentar kontroversial ini langsung memicu berbagai reaksi dari komunitas sepak bola Inggris, menambah daftar panjang pernyataan blak-blakan yang kerap dilontarkan oleh pelatih yang dikenal hobi meredエネルギー negatif dengan buah lemon di ruang kerjanya itu.