Manchester City menjalin kerja sama sponsorship baru dengan platform e-commerce Trendyol senilai sekitar 2 juta poundsterling. Mantan CEO Everton, Keith Wyness, memperingatkan bahwa kesepakatan bernilai kecil ini berpotensi memicu rasa tidak puas di antara mitra utama klub lainnya.
“Kamu harus berhati-hati dalam cara konflik tersebut diselesaikan karena tidak diragukan lagi sponsor utama akan mulai mengajukan pertanyaan.”
— Manchester City
Manchester City resmi mengumumkan kerja sama sponsorship baru dengan perusahaan e-commerce Trendyol yang dikhawatirkan dapat memicu kekhawatiran dari para mitra komersial mereka yang lebih mapan. Hal tersebut diungkapkan oleh mantan chief executive Everton, Keith Wyness, dalam wawancara eksklusif yang menilai langkah ini bisa menimbulkan gesekan internal.
Trendyol sebelumnya baru saja meneken kesepakatan untuk menjadi mitra marketplace online resmi bagi Manchester City, setelah sebelumnya juga terlibat sebagai mitra resmi turnamen Euro 2024 UEFA. Menurut estimasi, nilai kontrak kerja sama baru ini diperkirakan tidak lebih dari kisaran 2 juta poundsterling.
Wyness memperingatkan bahwa kesepakatan dengan nilai yang relatif kecil tersebut berpotensi membuat perusahaan mitra lainnya merasa dirugikan. Pasalnya, brand sekelas Manchester City kini dapat diakses oleh pihak lain dengan biaya yang dianggap tidak sebanding dengan investasi mitra utama.
Langkah ekspansi klub ke pasar baru melalui kemitraan ini memang memperluas jangkauan bisnis mereka, namun di sisi lain hal tersebut justru diyakini dapat menciptakan lebih banyak masalah daripada solusi bagi manajemen internal.
Strategi Ekspansi Pasar dan Pandangan Eks CEO
Mantan bos Everton yang kini menjalankan konsultan sepak bola tersebut menjelaskan bahwa kesepakatan Man City dengan Trendyol merupakan bagian dari upaya klub untuk merambah berbagai pasar baru. Klub dinilai secara sadar mencoba memperluas jangkauan guna membangun pendapatan dari kumpulan sponsor yang lebih beragam.
Berbicara dalam podcast Inside Track, Wyness membeberkan bagaimana kacamata seorang chief executive melihat strategi komersial semacam ini di industri sepak bola modern. "Tren beberapa tahun lalu adalah berekspansi secara regional dan ke dalam berbagai kategori produk yang berbeda untuk mendatangkan sponsor sebanyak mungkin," ujarnya menjelaskan.
Ia menambahkan bahwa City Football Group memiliki peluang yang sangat besar untuk mengeksekusi strategi pasar multi-regional ini dengan lebih baik dibandingkan klub lain. Jaringan global yang luas memungkinkan mereka memecah hak sponsor ke dalam segmen-segmen geografis yang spesifik.
Kendati demikian, masalah utama yang kerap muncul adalah ketika klub mulai memberikan akses terhadap keseluruhan brand Manchester City kepada bisnis tertentu dengan harga murah. Kebijakan ini dinilai dapat mencederai perasaan para mitra strategis yang menggelontorkan dana jauh lebih besar.
Read Also
Donyell Malen Tampil Gemilang dan Cetak Banyak Gol Bersama AS Roma di Serie A
Donyell Malen mencetak lima gol dalam dua pertandingan pembuka Serie A...
Hubungan Spesial Mikel Arteta dan Xabi Alonso Menjelang Pertandingan Arsenal dan Chelsea
Mikel Arteta dan Xabi Alonso berbagi kisah persahabatan panjang sejak kecil...
Cesc Fabregas Raih Gelar Pelatih Terbaik Serie A Usai Bawa Como Tampil Gemilang
Cesc Fabregas resmi dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Serie A untuk musim...
Legenda MU Rio Ferdinand Sebut Tim Rekrutmen Arsenal Terbaik Musim Ini
Legenda Manchester United Rio Ferdinand menilai Arsenal melakukan aktivitas...
Pertanyaan dari Mitra Utama dan Isu Bursa Transfer
Kondisi tersebut membuat para sponsor besar berpotensi mempertanyakan alasan mengapa perusahaan lain bisa mendapatkan akses fasilitas yang sama dengan harga jauh lebih rendah. "Tiba-tiba sponsor besar kamu mulai berpikir, tunggu sebentar, saya membayar dengan jumlah yang cukup besar untuk penggunaan brand City," kata Wyness.
Pihak klub kini dituntut untuk ekstra hati-hati dalam mengelola potensi konflik komersial yang timbul akibat perbedaan nilai kontrak sponsorship tersebut agar hubungan jangka panjang tetap terjaga. Penanganan yang tidak tepat dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas finansial di balik layar.
Di sisi lain, dinamika seputar Manchester City juga merembet ke bursa transfer pemain setelah mantan pemandu bakat Tottenham, Bryan King, mengomentari situasi penjaga gawang James Trafford. King menyayangkan keputusan mantan klubnya yang tidak berusaha memboyong Trafford dari Man City sebelum sang kiper akhirnya berlabuh ke Leeds United.
Meskipun hubungan bisnis dan transfer antara City dan klub-klub seperti Tottenham cukup sering terjadi, kegagalan mengamankan pemain potensial dianggap sebagai celah yang terlewatkan. Berbagai analisis menunjukkan bahwa keseimbangan antara strategi bisnis komersial dan prestasi tim di lapangan akan terus menjadi sorotan utama.