Gangguan abu vulkanik Krakatau terhadap jalur penerbangan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi hingga menembus Rp100 miliar jika erupsi berlangsung lebih dari lima hari. INACA menekankan pentingnya kecepatan informasi dan fleksibilitas operasional bagi maskapai.
“"Tetapi kalau erupsi dan sebaran abu berlangsung lebih dari lima hari, dampaknya bisa mulai menembus Rp100 miliar dan menggerus kinerja maskapai pada kuartal III dan IV," ujar Bayu Sutanto.”
— INACA
Maskapai penerbangan tidak hanya dihadapkan pada kewajiban memastikan pesawat tetap aman dari gangguan abu vulkanik, tetapi juga harus menjaga kepastian perjalanan penumpang. Penanganan yang cepat dan tepat menjadi kunci utama ketika status operasional penerbangan berubah dalam waktu singkat.
Perubahan jadwal, pengalihan rute, hingga opsi pengembalian dana harus segera diinformasikan kepada para penumpang yang terdampak. "Maskapai perlu proaktif memberikan informasi melalui WhatsApp, SMS atau kanal komunikasi lainnya," ujar Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, dalam keterangannya kepada CNBC Indonesia pada Selasa, 8 September 2026.
Selain komunikasi penumpang, operator penerbangan juga wajib memberikan opsi fleksibel seperti pengaturan ulang jadwal perjalanan tanpa biaya tambahan. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meminimalisir kerugian serta kekecewaan yang dialami oleh masyarakat pengguna jasa transportasi udara.
Di sisi lain, tantangan operasional penerbangan menuntut koordinasi lintas sektoral yang solid agar kelangsungan industri tetap terjaga di tengah situasi darurat bencana alam.
Koordinasi Operasional dan Pengalihan Jalur Penerbangan
Aspek operasional maskapai sangat bergantung pada pembaruan data terkait sebaran abu vulkanik yang akurat dari lembaga berwenang. Koordinasi intensif dengan pihak AirNav dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjadi landasan utama pengambilan keputusan penerbangan.
"Maskapai akan terus berkoordinasi dengan AirNav dan BMGK untuk mendapatkan perkembangan terbaru mengenai volcanic ash," ungkap Bayu. Informasi ini membantu operator memutuskan apakah sebuah penerbangan layak dilanjutkan, ditunda, dialihkan, atau dihentikan sementara waktu.
Sebagai langkah antisipasi koridor udara yang tidak dapat dilalui, maskapai menerapkan opsi pengalihan jalur melalui rute alternatif. Kebijakan pengalihan rute ini secara langsung membawa konsekuensi berupa waktu terbang yang lebih panjang serta kebutuhan bahan bakar ekstra.
Untuk mengatasi keterbatasan di bandara terdampak, maskapai perlu menyiapkan tambahan bahan bakar dari titik keberangkatan yang aman. Strategi ini memastikan kelancaran operasional penerbangan tidak terganggu oleh kendala pengisian bahan bakar di destinasi.
Read Also
Harga Pertamax Bisa Tembus Rp20 Ribu per Liter Imbas Lonjakan Minyak Dunia
PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan potensi harga BBM nonsubsidi seperti...
Sejarah Rupee Mata Uang Klasik dan Modern di Berbagai Negara
Rupee adalah nama umum untuk mata uang yang digunakan di berbagai negara...
RKAB Dipangkas, Produksi Batu Bara RI Turun 8 Juta Ton per Bulan pada 2026
Kementerian ESDM memangkas rata-rata produksi batu bara Indonesia sebesar 8...
Freeport Indonesia Perkirakan Produksi Katoda Tembaga 2026 Capai 400.000 Ton
PT Freeport Indonesia memproyeksikan produksi katoda tembaga pada tahun 2026...
Potensi Kerugian Ekonomi dan Proyeksi Kinerja Kuartal
Fleksibilitas industri penerbangan sangat dibutuhkan guna mencegah gangguan operasional berkembang menjadi krisis finansial yang lebih besar bagi maskapai. Penyesuaian slot penerbangan serta optimalisasi bandara alternatif menjadi instrumen penyelamatan kelangsungan bisnis.
Penanganan yang cepat dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari regulator hingga maskapai, dapat membatasi skala kerugian yang ditimbulkan. Jika koordinasi berjalan efektif, dampak gangguan operasional tersebut masih berada dalam batas kendali perusahaan.
Kendati demikian, skala kerugian industri berpotensi melonjak drastis apabila durasi bencana alam ini berlanjut dalam jangka waktu yang relatif panjang. Durasi erupsi yang melebihi batas waktu kritis akan memberikan tekanan berat bagi keuangan maskapai.
"Tetapi kalau erupsi dan sebaran abu berlangsung lebih dari lima hari, dampaknya bisa mulai menembus Rp100 miliar dan menggerus kinerja maskapai pada kuartal III dan IV," tutur Bayu.