Loading...

Juventus Masih Butuh Penjualan Pemain Besar di Tengah Perbaikan Keuangan Klub

Luciano Spalletti pelatih kepala Juventus dan Giovanni Carnevali CEO US Sassuolo di Stadion Mapei

Luciano Spalletti pelatih kepala Juventus dan Giovanni Carnevali CEO US Sassuolo di Stadion Mapei

Share:

Giovanni Carnevali berhasil menstabilkan kondisi finansial Juventus dan merombak skuad Luciano Spalletti. Kendati demikian, Bianconeri masih harus melakukan penjualan pemain besar agar bisa memenuhi target keuangan UEFA.

“Peluang mencapai titik impas pada 2028 semakin menurun," ujar Fabrizio Bava selaku profesor ekonomi bisnis Universitas Turin.”

— Giovanni Carnevali

Sejak menggantikan Damien Comolli sebagai pemimpin eksekutif Juventus, Giovanni Carnevali berhasil menstabilkan posisi keuangan klub yang rapuh sekaligus merombak skuad asuhan Luciano Spalletti. Carnevali memimpin perombakan skuad secara menyeluruh tanpa melanggar batasan Perjanjian Penyelesaian UEFA.

Kepergian pemain bintang seperti Dušan Vlahović, Jonathan David, dan Loïs Openda mendanai kedatangan pemain baru termasuk Randal Kolo Muani, Guglielmo Vicario, dan Jhon Lucumí. Meskipun Juventus sukses mendaftarkan skuad Liga Europa dengan biaya lebih rendah, total gaji dan biaya amortisasi klub tetap mengalami kenaikan sebesar 18,92% atau sekitar €15 juta.

Berbicara kepada Tuttosport, profesor ekonomi bisnis Universitas Turin Fabrizio Bava menjelaskan bahwa beban finansial yang besar dari Kolo Muani mengimbangi sebagian besar penghematan dari kepergian Vlahović. Akibatnya, klub kini menghadapi persimpangan krusial untuk mencapai titik impas keuangan pada tahun 2028.

Demi menyeimbangkan neraca keuangan sebelum tenggat waktu 30 Juni 2027, Giovanni Carnevali dipastikan masih harus menyetujui setidaknya satu penjualan pemain penting.

Latar Belakang dan Tantangan Finansial Klub

Perombakan skuad yang dilakukan oleh Giovanni Carnevali dirancang agar tetap berada di dalam koridor aturan finansial yang ditetapkan oleh UEFA. Aktivitas transfer di bursa pemain memperlihatkan pergeseran komposisi pemain yang masuk dan keluar secara signifikan.

Walaupun manajemen telah berupaya menekan pengeluaran melalui pendaftaran skuad yang efisien, kenaikan pada pos gaji dan amortisasi tetap menjadi tantangan tersendiri bagi keuangan klub.

Situasi ini membuat beban ekonomi dari pemain yang baru direkrut memakan sebagian besar anggaran yang berhasil dihemat dari penjualan pemain sebelumnya.

Para pengamat ekonomi olahraga menilai bahwa langkah-langkah strategis lanjutan sangat diperlukan agar klub asal Turin tersebut tidak semakin terbebani kerugian operasional.

Prospek Masa Depan dan Analisis Ahli Ekonomi

Fabrizio Bava menegaskan bahwa peluang klub untuk mencapai titik impas pada tahun 2028 semakin menurun jika tidak ada perbaikan pendapatan yang signifikan.

Menurut Bava, "Juventus harus meningkatkan pendapatan atau menjual aset bernilai tinggi seperti Yildiz, Alajbegović, atau Bremer."

Tanpa adanya keuntungan modal yang besar serta kegagalan dalam mengamankan pendapatan dari ajang Liga Champions, total kerugian klub berpotensi melampaui angka €100 juta.

Kondisi tersebut menjadikan opsi penambahan modal hampir tidak terhindarkan bagi manajemen Juventus di masa mendatang.

Leave a Comment