Badan Gizi Nasional memperketat tata kelola program Makan Bergizi Gratis melalui penataan jam kerja dapur, kewajiban logbook digital, pemasangan CCTV, hingga pemberian label batas waktu konsumsi guna menjamin keamanan pangan siswa.
“"Dikasih jam kerja saja tidak cukup, maka kami melaksanakan monitoring, di jam-jam krusial itu," ujar Kepala BGN Sudaryono.”
— Badan Gizi Nasional
Keselamatan dan kesehatan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis terus menjadi prioritas utama bagi Badan Gizi Nasional. Dalam prosesnya, prioritas ini senantiasa diupayakan melalui penjagaan kualitas dan keamanan pangan dari program tersebut.
Maka dari itu, Badan Gizi Nasional semakin menggencarkan pembentukan kebijakan yang mampu memperkuat kedisiplinan dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Salah satunya dengan menetapkan standar waktu kerja dapur beserta sistem pengawasannya yang lebih ketat.
Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengemukakan pengaturan jam kerja wajib kepala satuan pelayanan dalam dua sesi utama, yakni sesi sore untuk persiapan dan sesi dini hari untuk pengolahan makanan. "Dikasih jam kerja saja tidak cukup, maka kami melaksanakan monitoring, di jam-jam krusial itu," ujar Kepala BGN Sudaryono, Jumat (28/8).
Aturan pendisiplinan ini telah berlaku di lapangan dengan dilakukannya penindakan tegas bagi pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran. Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan standar baru yang lebih transparan dan akuntabel.
Sistem Pengawasan Terintegrasi dan Logbook Digital
Untuk memastikan seluruh personel sudah siap dalam menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya, Badan Gizi Nasional menciptakan sistem pengawasan melalui koordinasi berjenjang dan pertemuan virtual. Kepala satuan pelayanan diwajibkan hadir di dapur sejak waktu operasional dimulai untuk memastikan seluruh prosedur berjalan dengan baik.
Selain pertemuan virtual berkala, Badan Gizi Nasional juga melaporkan persiapan sistem pengawasan berupa kamera pengawas yang terhubung langsung ke kantor pusat. "Kami ingin CCTV-nya itu connect ke dalam sistem IT kita yang ada di kantor pusat. Jadi kita bisa tahu," ucap Sudaryono terkait pengawasan menyeluruh dari pusat hingga daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono juga mengungkapkan bahwa kini seluruh dapur wajib merekam seluruh proses pengolahan ke dalam sistem pencatatan digital atau logbook. Sistem pencatatan ini mencakup seluruh rangkaian proses mulai dari pembelian bahan baku hingga diterima di sekolah.
Dengan adanya sistem pencatatan digital ini, pengawasan dan evaluasi pun dapat ditelusuri dengan lebih jelas. Sistem ini mampu menunjukkan celah dalam proses, misalnya jeda waktu yang terlalu panjang antara pengolahan dan konsumsi.
Read Also
Sembilan Bandara Ditutup Sementara Akibat Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Sebanyak sembilan bandara di Indonesia ditutup sementara akibat sebaran abu...
Basarnas Dikerahkan untuk Mencari 5 Jurnalis yang Hilang Kontak Saat Liput Erupsi Gunung Anak Krakatau
Basarnas mengerahkan sejumlah unsur SAR dan armada untuk mencari lima...
Pakar Malaysia Jelaskan Potensi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Negeri Jiran
Letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu perhatian publik di...
Mengenal Perbedaan Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau yang Kembali Erupsi
Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan publik setelah mengalami erupsi...
Label Batas Waktu Konsumsi dan Tanggapan Pengamat
Antisipasi lainnya terhadap makanan yang sudah tak layak dikonsumsi adalah pemberian label batas waktu konsumsi pada kemasan makanan. Kebijakan ini mewajibkan pencantuman peringatan agar makanan dikonsumsi sebelum batas waktu tertentu demi menghindari risiko kesehatan.
Pengamat kebijakan publik dari Institute for Development of Policy and Local Partnerships, Riko Noviantoro, menyatakan pencantuman batas waktu konsumsi telah menjadi kebijakan yang telah ditunggu-tunggu. "Nah sekarang hari ini dilakukan dengan pemberian label batas layak konsumsi," ujar Riko kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/9).
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, juga melihat rangkaian kebijakan terbaru ini sebagai langkah yang cukup solutif. Ia menilai kombinasi pengawasan manusia dan digital membentuk sistem manajemen risiko yang baik.
Kebijakan-kebijakan baru ini menandakan era yang baru dalam pelaksanaan tata kelola program Makan Bergizi Gratis secara optimal. Pelaksanaan program ini diharapkan dapat mencapai tingkat keamanan pangan yang lebih terjamin bagi seluruh peserta didik.