Loading...

Profil Lengkap Otto Loewi Sang Penemu Asetilkolin

Foto potret Otto Loewi, farmakolog terkemuka dan peraih Nobel Kedokteran

Foto potret Otto Loewi, farmakolog terkemuka dan peraih Nobel Kedokteran

Share:

Otto Loewi adalah seorang farmakolog dan psikobiolog kelahiran Jerman yang dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1936. Ia dikenang dunia berkat penemuannya mengenai asetilkolin sebagai neurotransmiter endogen pertama yang membuktikan transmisi kimiawi pada sistem saraf.

“Nisbah dari riset ini membawa pemahaman baru bahwa transmisi impuls saraf pada hakikatnya terjadi secara kimiawi.”

— Otto Loewi

Otto Loewi lahir di Frankfurt, Jerman, pada 3 Juni 1873 dari sebuah keluarga Yahudi. Perjalanan kariernya di dunia medis bermula dari ketertarikannya pada bidang kedokteran sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mendedikasikan diri sepenuhnya pada penelitian ilmu kedokteran dasar, khususnya farmakologi. Ia menempuh pendidikan di Universitas Strasbourg dan meraih gelar doktor kedokteran pada tahun 1896.

Kontribusi terbesar Loewi bagi sains dicapai melalui eksperimen ikoniknya pada tahun 1921 yang membuktikan bahwa impuls saraf ditransmisikan melalui zat kimia. Eksperimen menggunakan jantung katak tersebut berhasil mengidentifikasi zat kimia yang kemudian dikenal sebagai asetilkolin. Penemuan ini meruntuhkan perdebatan panjang di kalangan ilmuwan mengenai sifat bioelektrik atau kimiawi dari transmisi sinapsis.

Atas jasa-jasa besarnya dalam bidang farmakologi dan neurosains, Loewi diganjar Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1936 yang ia bagikan bersama sahabat karibnya, Sir Henry Dale. Sepanjang hidupnya, ia juga memegang berbagai posisi akademis penting di universitas terkemuka di Austria, Britania Raya, hingga Amerika Serikat setelah melarikan diri dari rezim Nazi.

Menjelang akhir hayatnya, Loewi tetap aktif berkontribusi di dunia ilmiah dan menjadi Anggota Asing Royal Society hingga wafatnya di New York City pada 25 Desember 1961. Warisan intelektualnya terus hidup dan menjadi fondasi utama dalam pemahaman modern mengenai neurofisiologi serta farmakologi sistem saraf.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Otto Loewi lahir dan dibesarkan di Frankfurt, Jerman, di tengah lingkungan keluarga Yahudi yang mendukung pendidikan intelektualnya. Pada tahun 1891, ia memulai studi kedokterannya di Universitas Strasbourg, Jerman, di mana ia mengikuti berbagai kuliah dari profesor-profesor ternama seperti Gustav Schwalbe, Oswald Schmiedeberg, dan Bernhard Naunyn. Di masa kuliahnya, ia juga aktif sebagai anggota persaudaraan mahasiswa Burschenschaft Germania Strassburg.

Setelah menyelesaikan studi kedokterannya dan meraih gelar doktor pada tahun 1896, Loewi sempat bekerja sebagai asisten klinis di Frankfurt dan Strasbourg. Namun, setelah menyaksikan tingginya tingkat mortalitas akibat penyakit seperti tuberkulosis dan pneumonia yang saat itu belum memiliki pengobatan yang memadai, ia memutuskan beralih jalur dari praktisi klinis menjadi periset sains dasar. Ia kemudian bergabung dengan profesor terkemuka Hans Horst Meyer di Universitas Marburg untuk memperdalam bidang metabolisme dan farmakologi.

Ketekunan dalam penelitian membawanya diangkat sebagai dosen privat atau 'Privatdozent' pada tahun 1900 setelah menerbitkan karya penting mengenai metabolisme nuklein dan tindakan phlorhizin. Dua tahun berselang, ia menerbitkan makalah penting tentang sintesis protein dalam tubuh hewan yang membuktikan bahwa hewan mampu menyusun kembali protein dari asam amino. Pengalaman riset ini memperkuat posisinya di dunia akademis internasional dan membawanya menjadi profesor di Universitas Graz, Austria, pada tahun 1903.

Fondasi nilai yang dipegang teguh oleh Loewi adalah objektivitas ilmiah yang ketat serta dedikasi tanpa kompromi terhadap metode eksperimental. Prinsip ini membantunya melewati masa-masa sulit, termasuk ketika ia harus menghadapi penangkapan dan pengusiran oleh rezim Nazi dari Austria pada tahun 1938. Dengan keteguhan mental yang luar biasa, ia mampu bangkit kembali dan melanjutkan karya ilmiahnya di pengasingan hingga akhir hayatnya.

Penemuan dan Kontribusi Ilmiah

Kontribusi paling monumental dari Otto Loewi adalah penemuan mekanisme transmisi kimiawi pada impuls saraf yang ia buktikan melalui eksperimen legendaris pada tahun 1921. Menggunakan dua jantung katak yang direndam dalam larutan Ringer, ia menunjukkan bahwa stimulasi pada saraf vagus jantung pertama melepaskan zat kimia tertentu ke dalam cairan yang kemudian mampu memperlambat denyut jantung kedua. Zat kimia misterius yang ia sebut sebagai 'Vagusstoff' tersebut terbukti identik dengan asetilkolin, neurotransmiter endogen pertama yang pernah ditemukan.

Penemuan revolusioner ini berhasil menyelesaikan perdebatan panjang di awal abad ke-20 mengenai apakah komunikasi antarsel di sinapsis bersifat bioelektrik atau kimiawi. Atas penemuan yang membuka era baru dalam bidang neurofisiologi dan farmakologi ini, Loewi dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1936 bersama Sir Henry Dale. Selain asetilkolin, ia juga banyak meneliti interaksi obat seperti adrenalin, kokain, digitalis, serta pengaruh kalsium terhadap fungsi jantung.

Selama berkarier di berbagai institusi bergengsi, termasuk Nuffield Institute for Medical Research di Oxford dan New York University College of Medicine, Loewi terus aktif menghasilkan karya ilmiah bermutu tinggi. Ia juga mengembangkan uji diagnostik klinis yang dikenal sebagai uji midriatik Loewi untuk mendeteksi pankreatitis akut berdasarkan respons pupil mata terhadap adrenalin. Berbagai penghargaan internasional seperti Penghargaan Cameron dari Universitas Edinburgh dan keanggotaan kehormatan Royal Society semakin mengukuhkan reputasinya.

Warisan abadi Otto Loewi terletak pada fondasi ilmu farmakologi modern yang ia bangun melalui ketelitian eksperimental dan inspirasi cemerlang yang datang dari mimpinya. Kontribusinya tidak hanya mengubah cara pandang dunia kedokteran terhadap sistem saraf manusia, tetapi juga menyelamatkan jutaan nyawa melalui pengembangan obat-obatan berbasis neurokimia di masa depan. Namanya abadi sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ilmu kedokteran modern.

Leave a Comment