Loading...

Temuan Makhluk 18 Juta Tahun Bisa Ubah Asal Usul Manusia

Ilustrasi penemuan fosil kera purba yang ditemukan oleh para ilmuwan di wilayah Afrika

Ilustrasi penemuan fosil kera purba yang ditemukan oleh para ilmuwan di wilayah Afrika

Share:

Para ilmuwan menemukan fosil kera misterius berusia 18 juta tahun di wilayah Mesir. Penemuan spesies baru bernama Masripithecus moghraensis ini diyakini dapat mengubah pandangan mengenai asal usul dan pohon evolusi manusia.

“Temuan fosil kera di wilayah ini sangat signifikan, dan agak mengejutkan. Namun ini juga menyoroti tidak lengkapnya gambaran kita selama ini,", ujar Shorouq Al-Ashqar.”

— Masripithecus moghraensis

Fosil kera misterius yang diperkirakan berusia 18 juta tahun berhasil ditemukan oleh para ilmuwan di Benua Afrika. Penemuan penting ini diyakini mampu menjawab berbagai teka-teki lama mengenai asal usul manusia serta evolusi primata.

Fosil kera tersebut ditemukan di wilayah Mesir, sebuah lokasi yang sedikit berbeda dari asumsi sebelumnya yang menyatakan bahwa kera modern berasal dari wilayah Afrika Timur. Spesies baru dari genus dan spesies yang belum pernah dikenal ini ditemukan di wilayah utara.

Penulis utama studi dari Universitas Mansoura Mesir, Shorouq Al-Ashqar, menyatakan bahwa penemuan ini memberikan sudut pandang baru. "Temuan fosil kera di wilayah ini sangat signifikan, dan agak mengejutkan. Namun ini juga menyoroti tidak lengkapnya gambaran kita selama ini,", ujar Shorouq Al-Ashqar, dikutip dari Live Science.

Meskipun temuan yang didapatkan pada periode 2023-2024 ini hanya berupa fragmen tulang rahang bawah serta beberapa gigi yang sudah aus, para peneliti tetap meyakini bahwa sisa-sisa tersebut merupakan bagian dari sejarah penting evolusi.

Identifikasi Spesies Baru dan Pohon Evolusi

Berdasarkan analisis fragmen yang ditemukan, para peneliti sepakat untuk memasukkan temuan tersebut ke dalam genus dan spesies baru bernama Masripithecus moghraensis. Nama tersebut diambil dari bahasa Arab dan Yunani yang berarti monyet Mesir atau penipu, serta merujuk pada lokasi penemuannya di Wadi Moghra.

Tim peneliti melakukan serangkaian penelitian mendalam terkait usia, anatomi berbagai fosil kera, hingga informasi evolusi pada DNA kera yang masih hidup saat ini. Langkah analitis ini diambil guna menentukan posisi M. moghraensis di dalam pohon evolusi kera purba.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. moghraensis berada dalam kelompok kera yang hidup sebelum terjadinya pemisahan antara kelompok kera besar serta kelompok gibbon-siamang atau kera kecil. Hal ini menandakan adanya hubungan kekerabatan yang dekat dengan leluhur bersama.

Salah seorang penulis studi dari Universitas Southern California, Erik Seiffert, menambahkan pendapatnya mengenai lokasi kehidupan makhluk purba tersebut. "Kemungkinan besar hidup di bagian utara daratan Afro-Arabia,", kata Erik Seiffert.

Perdebatan Ilmiah dan Tanggapan Para Ahli

Kendati temuan ini menarik perhatian dunia ilmiah, tidak semua antropolog dan paleontolog langsung sepakat dengan analisis yang dipaparkan. Beberapa ahli menilai bahwa interpretasi terhadap garis keturunan leluhur manusia masih memerlukan pembuktian tambahan.

Antropolog biologis dari Institut Paleontologi Miquel Crusafont, Sergio Almecija, menjelaskan bahwa para ilmuwan perlu melihat temuan fosil yang jauh lebih lengkap sebelum dapat memperbarui teori terkait nenek moyang kera secara utuh.

Sementara itu, paleontolog dari Institut Paleontologi Catalan Miquel Crusafont, David Alba, berpendapat bahwa gagasan mengenai keberadaan kera modern di Afrika Utara dan Arabia sekitar 17 juta tahun lalu merupakan bukti yang sudah lama diketahui dunia akademis.

Dari informasi tersebut serta fakta ditemukannya kera kecil di Asia Selatan dan tenggara, disimpulkan bahwa kera memang pernah melewati wilayah Afro-Arabia bagian timur laut, meskipun hal tersebut belum serta-merta membuktikan bahwa mereka berasal sepenuhnya dari wilayah tersebut.

Leave a Comment