Loading...

Profil Mario Molina Sang Tokoh Penemu Kerusakan Ozon

2026-09-09 SCIENCE BIOGRAFI, SAINS, KIMIA
Foto potret Mario Molina, kimiawan fisik asal Meksiko dan peraih Nobel Kimia

Foto potret Mario Molina, kimiawan fisik asal Meksiko dan peraih Nobel Kimia

Share:

Mario José Molina-Pasquel Henríquez adalah seorang kimiawan fisik asal Meksiko yang memainkan peran penting dalam penemuan ancaman gas klorofluorokarbon (CFC) terhadap lapisan ozon bumi. Atas jasanya tersebut, ia dianugerahi Penghargaan Nobel Kimia pada tahun 1995 dan menjadi ilmuwan kelahiran Meksiko pertama yang meraih penghargaan bergengsi tersebut.

Mario José Molina-Pasquel Henríquez lahir di Mexico City pada 19 Maret 1943 dan wafat pada 7 Oktober 2020. Ia merupakan seorang kimiawan fisik terkemuka yang mendedikasikan hidupnya untuk studi atmosfer dan sains lingkungan. Namanya abadi dalam sejarah ilmu pengetahuan modern berkat penemuan krusial mengenai bahaya bahan kimia buatan manusia terhadap atmosfer bumi.

Perjalanan hidup Molina diwarnai oleh ketertarikan mendalam pada sains sejak usia dini yang kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi di berbagai institusi bergengsi dunia. Ia membangun karier akademik yang cemerlang di Amerika Serikat, termasuk di Universitas California dan Massachusetts Institute of Technology. Kontribusinya tidak hanya berhenti di laboratorium, melainkan diterjemahkan langsung ke dalam kebijakan lingkungan global.

Puncak pencapaian ilmiah Molina terjadi ketika ia bersama Sherwood Rowland mempublikasikan teori penipisan ozon akibat gas CFC pada tahun 1974. Penemuan revolusioner ini memicu perdebatan global yang berujung pada penandatanganan Protokol Montreal untuk melarang penggunaan bahan perusak ozon tersebut. Langkah ini dinilai sebagai salah satu keberhasilan terbesar dalam sejarah kerja sama lingkungan internasional.

Hingga akhir hayatnya, Molina tetap aktif memberikan penasihat kebijakan iklim kepada berbagai pemimpin dunia serta terlibat dalam riset penting terkait kesehatan dan lingkungan. Warisan ilmiahnya terus hidup dan menginspirasi generasi ilmuwan berikutnya untuk melindungi bumi dari ancaman kerusakan ekologis.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Mario Molina lahir dari pasangan Roberto Molina Pasquel dan Leonor Henríquez di Mexico City. Ayahnya merupakan seorang pengacara dan diplomat yang pernah bertugas sebagai duta besar untuk beberapa negara, sementara ibunya mengelola urusan rumah tangga. Lingkungan keluarga yang terpandang memberikan dukungan moral yang kuat bagi pendidikan awal Molina.

Ketertarikan Molina pada dunia sains, khususnya kimia, bermula sejak ia masih anak-anak di mana ia mengubah kamar mandinya menjadi laboratorium mini menggunakan perangkat mainan. Bibinya yang seorang kimiawan turut membantu memupuk minat tersebut dengan membimbingnya melakukan eksperimen yang lebih kompleks. Sebelum sepenuhnya mantap mendalami sains, ia sempat memiliki ketertarikan besar pada musik dan hampir memilih jalur sebagai pemain biola profesional.

Pendidikan dasarnya diselesaikan di Meksiko sebelum ia dikirim ke sekolah asrama di Swiss pada usia sebelas tahun untuk memperluas wawasan dan mempelajari bahasa Jerman. Setelah kembali ke Meksiko, ia melanjutkan studi dan berhasil meraih gelar sarjana di bidang teknik kimia dari National Autonomous University of Mexico pada tahun 1965. Ia kemudian memperdalam pengetahuannya mengenai kinetika polimerisasi di Jerman Barat sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Amerika Serikat.

Molina mendaftar di Universitas California, Berkeley, pada tahun 1968 dan mendalami dinamika molekul di bawah bimbingan Profesor George C. Pimentel. Pengalaman riset di Berkeley semakin memantapkan kecintaannya pada penelitian ilmiah tingkat lanjut dan memperkuat landasan teoretisnya. Setelah merampungkan gelar doktor dalam bidang kimia fisik, ia bergabung dengan program penelitian di Universitas California, Irvine.

Penemuan CFC dan Kontribusi Ilmiah

Karier riset monumental Molina dimulai ketika ia bergabung dengan laboratorium Profesor F. Sherwood Rowland di Universitas California, Irvine, pada tahun 1973. Bersama Rowland, ia memfokuskan penelitian pada senyawa klorofluorokarbon atau CFC yang banyak digunakan dalam lemari es, kaleng aerosol, dan busa plastik. Mereka mengajukan pertanyaan mendasar mengenai dampak pelepasan zat asing tersebut ke lingkungan yang sebelumnya dianggap tidak berbahaya.

Melalui penggabungan data kimia atmosfer dan pemodelan komputer, Molina dan Rowland menyadari bahwa gas CFC yang stabil di permukaan bumi akan naik ke stratosfer dan terurai oleh sinar ultraviolet. Proses penguraian tersebut melepaskan atom klorin reaktif yang bertindak sebagai katalis dalam menghancurkan molekul ozon secara berantai. Temuan teoretis ini dituangkan dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Nature pada tahun 1974 dan menggemparkan dunia sains serta industri kimia.

Meskipun sempat mendapat penolakan dari industri komersial, temuan mereka akhirnya terbukti benar setelah ditemukannya lubang ozon di Antartika oleh tim peneliti lain pada tahun 1985. Bukti empiris tersebut mendorong komunitas internasional untuk menyepakati Protokol Montreal guna menghentikan produksi CFC secara bertahap. Berkat jasa besar ini, Mario Molina bersama Paul J. Crutzen dan F. Sherwood Rowland dianugerahi Penghargaan Nobel Kimia pada tahun 1995.

Pada paruh akhir kariernya, Molina mendirikan pusat riset strategi lingkungan di Mexico City dan aktif memberikan nasihat iklim bagi para presiden di Meksiko dan Amerika Serikat. Ia juga berkontribusi dalam perumusan ensiklik kepausan terkait lingkungan hidup serta terlibat dalam riset penularan virus melalui udara selama pandemi global. Warisan ilmiah dan advokasinya terus menjadi fondasi penting bagi kebijakan perlindungan lingkungan di seluruh dunia.

Leave a Comment