Pasar saham Asia mengalami kemerosotan tajam sementara harga minyak melonjak akibat gangguan pasokan global. Investor kini bersiap menghadapi keputusan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, serta bank sentral lainnya.
“Kami sekarang memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, pada September dan Desember,", ujar Chief U.S. Economist JPMorgan Michael Feroli.”
— Federal Reserve (The Fed)
Pasar saham di kawasan Asia merosot tajam pada perdagangan Senin, tertekan oleh lonjakan baru harga minyak akibat kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Selain itu, para pelaku pasar juga tengah bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Jepang pada pekan ini.
Indeks Nikkei di Jepang tercatat turun sebesar 1,7%, sementara indeks saham Korea Selatan mengalami kemerosotan yang lebih dalam hingga 3,3%. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turut terkoreksi sebesar 0,8% pada perdagangan awal pekan ini.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh serangkaian serangan baru terhadap fasilitas energi di Arab Saudi serta kapal-kapal di kawasan Teluk yang memperkeruh situasi geopolitik. Pertemuan antara Iran dan negara-negara Arab Teluk di Oman yang dijadwalkan membahas pembukaan Selat Hormuz juga terpaksa ditunda.
Di tengah ketidakpastian ini, kontrak berjangka minyak Brent mengalami kenaikan signifikan menjadi US$107,36 per barel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai lonjakan inflasi global yang dapat bertahan dalam waktu cukup lama.
Ekspektasi Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Respons Pasar
Kekhawatiran inflasi semakin meningkat setelah laporan indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang berada di atas perkiraan awal para analis. Pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 86% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Chief U.S. Economist JPMorgan Michael Feroli menyatakan bahwa pihaknya memperkirakan bank sentral AS tersebut akan melakukan penyesuaian suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini. "Kami sekarang memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, pada September dan Desember," ujar Michael Feroli dalam tanggapannya terhadap situasi ekonomi saat ini.
Tekanan jual tidak hanya melanda bursa Asia, tetapi juga merembet ke pasar berjangka Eropa dan bursa Wall Street di Amerika Serikat. Indeks-indeks utama seperti EUROSTOXX 50, DAX, serta kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq kompak mencatatkan pelemahan.
Meskipun kenaikan suku bunga umumnya memberikan tekanan sesaat pada pasar saham, Chief U.S. Equity Strategist Goldman Sachs Ben Snider menilai bahwa kinerja laba perusahaan yang kuat berpotensi menopang kelanjutan tren positif di Wall Street.
Read Also
Sejarah Krisis Finansial Swedia 1990–1994 dan Model Penyelamatannya
Krisis finansial Swedia 1990–1994 adalah masa resesi parah akibat pecahnya...
Sejarah Krone Swedia Mata Uang Resmi Kerajaan Swedia
Krone Swedia dengan kode SEK adalah mata uang resmi Kerajaan Swedia yang...
Biografi Robert Nobel Tokoh Bisnis dan Pelopor Industri Minyak Rusia
Robert Hjalmar Nobel adalah seorang pengusaha, industrialis, dan investor...
Sejarah Aktiebolag Istilah Perusahaan Terbatas di Swedia dan Finlandia
Aktiebolag adalah istilah dalam bahasa Swedia yang merujuk pada perusahaan...
Dinamika Bank Sentral Lain dan Pasar Komoditas Global
Selain pergerakan The Fed, pelaku pasar juga mencermati langkah Bank of Japan (BOJ) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Langkah ini diambil untuk mencegah pelemahan lanjutan pada mata uang yen.
Di pasar valuta asing, nilai tukar dolar Amerika Serikat berada di level 153,49 yen setelah sempat mengalami pelemahan dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, euro dan pound sterling terpantau bergerak relatif stabil di tengah penantian keputusan suku bunga Bank of England.
Di sektor komoditas logam, harga emas dunia mengalami koreksi tipis sebesar 0,3% menjadi US$4.336 per troy ounce akibat tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Kenaikan imbal hasil obligasi tersebut secara langsung mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai yang tidak memberikan hasil berupa pembayaran bunga.