Cordite adalah keluarga propelan tanpa asap yang dikembangkan dan diproduksi di Britania Raya sejak tahun 1889 untuk menggantikan mesiu hitam dalam dunia militer. Bahan peledak ini dibuat dengan menggabungkan nitroselulosa, nitrogliserin, dan jeli minyak bumi guna menghasilkan gelombang deflagrasi subsonik. Penggunaannya sangat luas dalam sejarah persenjataan modern, mulai dari amunisi senapan standar hingga amunisi artileri berat.
Cordite adalah keluarga propelan tanpa asap yang dikembangkan dan diproduksi di Britania Raya sejak tahun 1889 untuk menggantikan mesiu hitam sebagai propelan senjata api militer. Bahan ini dibuat dengan menggabungkan dua bahan peledak kimia, yaitu nitroselulosa dan nitrogliserin, bersama dengan jeli minyak bumi. Cordite dirancang dalam penggunaan normal untuk menghasilkan gelombang deflagrasi subsonik daripada gelombang detonasi supersonik yang dihasilkan oleh bahan peledak tinggi. Gas panas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan ini menciptakan tekanan yang cukup untuk mendorong peluru atau cangkang ke targetnya tanpa merusak laras senjata.
Cordite awalnya digunakan dalam kartrid senapan standar .303 British, Mark I dan II, antara tahun 1891 dan 1915. Kekurangan cordite pada masa Perang Dunia I menyebabkan pendirian HM Factory di Gretna pada perbatasan Inggris-Skotlandia, yang memproduksi sekitar 800 ton cordite per minggu. Inggris juga mengimpor beberapa bubuk tanpa asap buatan Amerika Serikat untuk digunakan dalam kartrid senapan. Cordite turut dimanfaatkan untuk senjata besar seperti senapan tank, artileri, dan meriam angkatan laut sejak akhir abad ke-19 oleh Inggris dan negara-negara Persemakmuran.
Penggunaannya semakin berkembang sebelum Perang Dunia Kedua, termasuk sebagai Proyektil Tanpa Putaran berdiameter 2 dan 3 inci untuk meluncurkan senjata anti-pesawat. Muatan roket cordite kecil juga dikembangkan untuk kursi lontar yang dibuat oleh Perusahaan Martin-Baker. Selain itu, cordite diaplikasikan dalam sistem detonasi bom atom 'Little Boy' yang dijatuhkan di Hiroshima pada bulan Agustus 1945. Selama Perang Dunia Kedua, propelan basis ganda digunakan secara luas, sementara propelan basis tiga mulai dipakai oleh artileri.
Propelan basis tiga digunakan dalam desain amunisi pascaperang dan tetap diproduksi untuk senjata Inggris, sementara sebagian besar propelan basis ganda telah pensiun setelah stok Perang Dunia Kedua habis. Untuk senjata kecil, cordite telah digantikan oleh propelan lain seperti lini bubuk ekstrusi Improved Military Rifle atau propelan bola WC844 yang digunakan dalam NATO 5,56x45mm. Produksi di Britania Raya berhenti sekitar akhir abad ke-20 dengan penutupan pabrik cordite terakhir, ROF Bishopton, dan kini produksinya dipindahkan ke Jerman.
Sejarah Pendirian dan Awal Mula
Mesiu, campuran mudah terbakar dari belerang, arang, dan kalium nitrat, merupakan propelan asli yang digunakan dalam senjata api dan kembang api sejak abad ke-10 atau ke-11. Namun, mesiu memiliki banyak kekurangan, termasuk menghasilkan asap dalam jumlah besar yang mengganggu pengelihatan di medan perang. Memasuki abad ke-19, berbagai 'bahan peledak nitro' mulai dikembangkan berdasarkan reaksi campuran asam nitrat pada bahan seperti selulosa dan gliserin. Perkembangan ini memicu pencarian intensif untuk menemukan pengganti yang lebih efektif bagi mesiu tradisional.
Bubuk tanpa asap pertama berhasil dikembangkan pada tahun 1865 oleh Johann Edward Schultze, seorang kapten artileri Prusia yang kemudian menjadi kolonel. Formulasinya yang dikenal sebagai Bubuk Schultze terdiri dari nitrolinosa yang berasal dari biji kayu nitrasi yang diresapi dengan kalium nitrat atau barium nitrat. Pada tahun 1882, Explosive Company of Stowmarket memperkenalkan Bubuk EC yang mengandung kapas nitro serta nitrat kalium dan barium dalam butiran gelatin. Meskipun tidak cocok untuk senapan, bubuk ini bertahan lama untuk senapan tabung serta digunakan untuk granat dan bom pecahan.
Pada tahun 1884, seorang kimiawan Prancis bernama Paul Vieille memproduksi propelan tanpa asap berbahan kolodion yang sukses besar dan dinamai Poudre B. Keberhasilan internasional ini memotivasi Alfred Nobel untuk menciptakan bahan ternitrasi yang aman sebagai pengganti mesiu melalui paten Ballistite buatannya. Namun, komite pemerintah Britania Raya yang dikenal sebagai Komite Bahan Peledak di bawah pimpinan Sir Frederick Abel memantau perkembangan tersebut dan memutuskan untuk tidak merekomendasikan Poudre B maupun Ballistite.
Sebagai respons atas kebutuhan propelan domestik, Sir Frederick Abel, Sir James Dewar, dan W. Kellner mengembangkan serta mematenkan propelan baru mirip ballistite pada tahun 1889. Formula baru ini terdiri dari 58 persen nitrogliserin, 37 persen guncotton, dan 5 persen jeli minyak bumi yang diekstrusi menggunakan aseton menjadi batang mirip spageti. Awalnya disebut sebagai 'bubuk tali' atau modifikasi komite dari ballistite, nama tersebut dengan cepat disingkat menjadi 'Cordite', menandai awal era baru propelan militer.
Read Also
Sejarah Zat Kimia Definisi, Klasifikasi, dan Perkembangan Konsepnya
Zat kimia adalah bentuk materi unik dengan komposisi kimia tetap dan sifat...
Sejarah Mikrobiologi dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Mikroorganisme
Mikrobiologi adalah studi ilmiah mengenai mikroorganisme yang mencakup...
Biografi Pierre Agostini Fisikawan Peraih Nobel Fisika
Pierre Agostini adalah seorang fisikawan eksperimental asal Prancis dan...
Sejarah Radionuclide Karakteristik dan Pemanfaatannya dalam Sains
Radionuklida adalah nuklida yang bersifat tidak stabil dan mengalami...
Prestasi dan Perkembangan Klub
Cordite pada awalnya dimulai sebagai propelan basis ganda sebelum akhirnya propelan basis tiga dikembangkan pada tahun 1930-an dengan memasukkan proporsi nitroguanidin yang substansial. Penambahan ini berhasil mengurangi kekurangan utama propelan basis ganda, yaitu suhu pembakaran yang relatif tinggi dan kilap laras senjata yang terlalu terang. Formulasi propelan basis ganda AN milik Imperial Chemical Industries selama Perang Dunia Kedua juga memiliki suhu yang jauh lebih rendah daripada Cordite Mk 1. Inovasi-inovasi ini membuktikan fleksibilitas kimiawi cordite dalam memenuhi kebutuhan pertempuran modern yang terus berubah.
Meskipun sukses besar secara militer, jalur sejarah cordite sempat diwarnai oleh sengketa hukum internasional yang panjang. Perusahaan Nobel's Explosives di Glasgow yang memegang paten Inggris milik Alfred Nobel menganggap paten cordite Abel dan Dewar merupakan bentuk pelanggaran hak paten. Perselisihan hukum ini berjalan dari pengadilan tingkat rendah di Inggris, naik banding ke Mahkamah Banding, hingga akhirnya mencapai House of Lords pada tahun 1895. Putusan akhir pengadilan didasarkan pada definisi spesifik dari jenis nitroselulosa terlarut versus guncotton tak larut yang digunakan dalam proses pembuatannya.
Kontribusi cordite terhadap kemampuan pertahanan Britania Raya dan negara-negara sekutunya sangat masif sepanjang paruh pertama abad ke-20. Dari parit-parit Perang Dunia Pertama hingga pertempuran laut dan udara di Perang Dunia Kedua, propelan ini menjadi tulang punggung daya tembak artileri dan persenjataan infanteri. Ketersediaan pasokan dalam skala masif dari pabrik-pabrik besar memastikan bahwa operasi militer strategis dapat terus berjalan tanpa hambatan pasokan logistik amunisi utama. Warisan teknologisnya membuka jalan bagi standardisasi propelan modern di berbagai belahan dunia.
Meskipun lini produksi aslinya di Britania Raya telah ditutup menjelang akhir abad ke-20 dengan berakhirnya operasional pabrik ROF Bishopton, pengaruh cordite tetap abadi dalam sejarah persenjataan. Sebagian besar varian awal telah digantikan oleh propelan generasi baru yang lebih stabil dan efisien untuk senjata genggam modern. Namun, varian turunan seperti propelan basis tiga untuk meriam artileri ringan terus diproduksi dan digunakan di negara lain, menandai babak akhir dari bahan peledak yang mendefinisikan kekuatan militer era industri.